Sabtu, 14 Mei 2011

Cinta Sejati

seorang wanita yang menyadari penuh bahwa Ia sangat mencintai laki-laki yang kini menjadi sahabatnya. Tetapi bagaimana dengan lelaki itu? Apakah Ia juga merasakan hal yang sama terhadap wanita itu? Hmmm…
SEHARI [...dan jangan lagi ucapkan janji]
aku pernah miliki bunga indah warnai hariku
ketika dia pergi
aku hanya bisa menyesali
kudapati bunga indahku telah tertaman
bukan dihatiku
meski masih mencintai
bunga indah itu bukan untukku
hanya wangi dan indahnya yang tersisa untukku
selalu ada dalam hati ini
Hari Rabu ini tidak beda dengan hari yang lain di bulan ini. Hujan baru saja berhenti, walau mendung masih terlihat di langit tapi sepertinya hujan tidak akan turun lagi. Udara terasa lebih segar, debu yang biasanya berterbangan tersapu tetesan hujan . Langit biru dan angin yang bertiup pelan menambah segar siang ini. Siang yang indah. Aku berharap indahnya siang ini tidak hanya di mata tetapi juga dapat menambah indah hidupku.
Aku baru saja masuk ke dalam mall, aku tidak perduli dengan orang-orang yang berjalan di depanku. Meski bukan musim liburan dan akhir pekan tetapi pengunjung siang ini lumayan banyak dengan tujuan yang berbeda mungkin belanja atau mungkin hanya sekedar membuang waktu dengan berkeliling mall. Sedangkan aku, tujuanku hanya satu. Menepati janji.
Aku sampai di lantai dua dan melirik ke salah satu café di sana dan tidak terlihat wajah yang aku kenal, aku mengarahkan mataku ke jam tangan, 13.16. Berarti masih ada setengah jam lebih untuk menunggu dia datang. Aku memutuskan untuk masuk ke satu café yang berhadapan dengan tempat kita janjian, jadi aku bisa melihat kalau nanti dia datang.
Secangkir Cappucino baru saja disajikan di depanku, aku melirik ke pelayannya dan mengucapkan terima kasih. Aku melanjutkan membolak-balik majalah yang memang tersedia di café itu sambil sesekali melirik ke café di depan menunggu dia datang.
Waktu berjalan perlahan Cappucino dalam cangkir masih tersisa setengah dan sama sekali tidak panas lagi. Perlahan aku mengangkat cangkir dengan niat untuk menghabiskan sisa kopi sebelum jadi benar-benar dingin. Tanganku tertahan ketika mataku secara sekilas melihat wajah yang begitu akrab di mataku. Walau telah bertahun tidak melihatnya tapi wajah itu tidak bakal bisa terlupakan. Wajah yang dulu begitu akrab denganku.
Sama sekali tidak banyak yang berubah dari dia. Meski dia lebih kelihatan dewasa dan lebih… *tiba-tiba jantungku berdetak tidak seperti biasa, berpacu lebih cepat seperti ingin segera melompat dan mendekat. Sementara hatiku memiliki keinginan yang lain, menahan kakiku untuk melangkah dan membiarkan mataku untuk memandangnya lebih lama lagi dari sini. Memandang sepuas hati tanpa harus mengucapkan sepatah kata melepas rindu yang selama ini terbenam dalam hati.
Dia menoleh ke dalam café, mungkin sedang mencari-cari  tanda  kehadiranku. Tangannya mengeluarkan handphone dari dalam tas . Jari-jarinya menekan tuts dan kemudian mendekatkan handphonenya ke telinga. Kembali melirik ke dalam café,…
Handphone di dalam saku celanaku bergetar. Di layar handphone tertulis namanya. Jawab tidak, jawab tidak, jawab…
“Hallo…”
“Hallo, aku udah di depan café, kamu di mana?
“Ehh, masih di jalan, ntar lagi sampai.” entah kenapa kata-kata itu keluar begitu saja.
“Kamu tunggu disitu aja dulu, pesan minum atau apalah.”
“Ya udah, aku tunggu di dalam. Tapi jangan lama ya.”
“Enggak, paling lima menitan lagi.”
Dia masuk kedalam dan duduk di pojok café. Aku masih memperhatikan dia yang sekarang lagi berbicara dengan pelayan café. Mungkin lagi memesan minuman. Sekitar beberapa menit kemudian aku bergerak, membayar kopi yang baru saja aku minum dan melangkah pelan ke café di depan. Rasanya seperti mau kencan pertama.
Di depan pintu aku berdiri sejenak menatap ke meja di pojok café, dia sedang sibuk membaca menu yang ada di depannya.
“Hai, lama nunggunya. Sorry ya”
Wajahnya terangkat mencari asal suara yang baru dia dengar. Matanya menatap ke wajahku. Jantung ini kembali berdetak tidak beraturan. Mata itu. Mata indah yang sampai saat ini masih tetap menjadi mata yang terindah yang pernah aku lihat.
“Enggak koq, aku juga barusan sampai.”
Aku duduk didepannya, lama aku berharap bisa bertemu dia malah terkadang aku merasa kalau keinginan untuk bertemu lagi hanya menjadi keinginan yang tak akan terwujud. Tapi hari ini keinginan itu telah terpenuhi dia ada di depan mata, hanya berdua. Kita berdua membalik-balik daftar makanan, sepertinya kita sama-sama sedang mencari bahan untuk memulai pembicaraan.
“Dari rumah tadi jam berapa?” aku memulai pembicaraan
“Jam sepuluh” dia menjawab datar tanpa melepaskan pandangan dari menu.
“Makasih ya kamu mau datang. Di rumah hujan juga?”
“Iya dari pagi. Untung aja hujannya berhenti kalau enggak mungkin gak jadi.”
“Hujan atau badai aku pasti tetap datang menepati janji.” Kali ini dia memandang dingin kearahku “Iya, aku tau kalau kamu selalu menepati janji kamu. Enggak kaya’ aku.”
“Eh, kenapa jadi ngomong kaya gitu. Sorry, aku cuma mau bilang kalo aku benar-benar mau ketemu dengan kamu.”
“ Iya, aku tau.”
“Permisi, mau pesan sekarang?” pelayan café berdiri tepat disamping meja.
“Eee..aku minta es green tea nya satu, kamu mau pesan makan?” Aku melirik ke arahnya.
“Mmh, kayaknya ntar aja ya, aku masih kenyang. Aku pesen es teanya juga ”
“Ya udah Mbak, minum aja dulu ya, makasih.” Si Mbak menggangguk dan pergi setelah mengulang pesananku tadi.
Kembali tinggal kita berdua, masih saling diam. Aku memandang meja-meja di sekitar kita, mencari sesuatu yang bisa dijadikan bahan pembicaraan, sayangnya tidak banyak tamu saat ini. Keinginanku untuk bertemu begitu besar begitu banyak cerita yang ingin kubagi dengannya begitu banyak cerita yang ingin kudengar darinya tapi saat ini aku tidak tahu harus memulai dari mana.
Beberapa minggu sebelumnya, tepatnya tiga minggu yang lalu. Aku mendapat pesan singkat SMS, “Hai, kamu lagi sibuk,ya. Cuma mau tanya kabar kamu aja. R”. Saat itu aku sama sekali tidak tahu siapa pengirim pesan tersebut, sampai kemudian aku membalas pesan tersebut dan menanyakan namanya. Dan setelah mengetahui siapa pengirim SMS tersebut begitu banyak kata-kata yang tertulis melalui SMS dari kita berdua. Saling bertukar kabar, berbagi cerita yang kita alami selama ini, mengenang masa lalu dan kita berhenti berkomunikasi saat itu ketika hari hampir mendekati subuh.
Hari-hari berikutnya kita masih saling berukar cerita melalui pesan singkat SMS, entah kenapa ketika kita berbicara langsung melalui telfon tidak ada kata atau cerita yang mengalir. Setelah seminggu berlalu, aku terpikir untuk bertemu dengannya.
Jadi alasan utamaku untuk pulang ke kota kelahirannku kali ini karena ingin ketemu dengan dia. Melepas rindu dan berbagi cerita secara langsung. Berbagi cerita tentang kita yang sudah lebih dari 10 tahun tidak bertemu.
“Yenn sama Epan, gimana kabarnya. baik?’ aku menayakan kedua putranya.
“Baik.”
“Koq, enggak diajak ikut?’
“Emang kamu mau ngejagainnya?’ ada senyuman di wajahnya
“Yah kan bisa disuruh main sendiri.”
“Repot kalau bawa mereka.”
“Terus di rumah dengan siapa?”
“Di titipin ke tetangga! Ya pasti sama neneknya, lah.”
“Ibu gak nanya kamu mau kemana?”
“Aku cuma bilang mau ngumpul sama temen-temen kuliah.” Dia melirik kearahku,  “Benerkan, ketemu dengan teman kuliah.”
Duh susah banget, mau ngomong apa lagi nih. Aku bener-bener gak tau mau ngobrolin apa. Belum lagi sikap dia masih dingin-dingin aja.
“Enggak terasa ya, sepuluh tahun gak ketemu.” kali ini dia mulai bicara
“Bukan cuma tidak bertemu, kita sama sekali putus hubungan.”
“Sebenarnya dua atau tiga tahun yang lalu waktu aku lagi cuti, aku sempat tanya-tanya tentang kamu ke temen-temen kampus dulu, mereka yang kasih tahu kamu kerja dimana sekarang. Cuma waktu itu masih segan aja untuk nelfon.”
“Sekarang udah enggak segan lagi?”
“Awal-awalnya agak ragu juga tapi daripada terus kepikiran ya nekat aja nelfon.”
“Kepikiran apaan?”
“Yah, kepingin tahu aja kabar kamu. Kalau lagi liburan seperti ini aku pasti masih sempat-sempatin ketemu semua temen baik di kampus dulu tapi dengan kamu aku sama sekali belum pernah ketemu jadi penasaran aja.”
“Sekarang udah ketemu, gimana ada yang berubah atau masih sama kaya dulu.”
“Secara fisik gak banyak yang berubah, yah paling berubah dikit lah. Perubahan dari faktor usia yang semakin tua.”
Gelas minuman kedua baru saja disajikan kali ini dengan sepiring sandwich. Tangannya meraih botol kecil yang berisi lada putih kemudian menaburkan diatas chilli sauce. Sepotong kentang goreng diambil untuk mengaduk-aduk chilli sauce supaya bersatu dengan lada putih. Kebiasaan lamanya yang tidak aku lupa.  Kebiasaan yang juga menular ke aku.
“Kebiasaan sambal dan merica belum hilang juga ya.”
“Kamu aja yang gak seneng pedes.”
“Enggak juga.”
“Tidak suka pedas juga enggak apa-apa, enggak usah malu.”
“Siapa yang bilang malu, aku sekali tidak menutupi kalau aku tidak suka pedas.”
“Kok kamu jadi serius gitu, masa gara-gara cabe kamu jadi marah.”
Marah. Saat ini aku tidak bisa marah, kalau dulu aku bakal diam seribu bahasa dan bermasam muka dan setelah itu dia bakal meminta maaf dan mulai mengeluarakan suara manja meluluhkan hati. Tapi sekarang rasanya jurus itu tidak mungkin lagi, aku harus tetap menjaga suasana tetap ceria. Tetap tersenyum.
“Dulu kalau sudah kesel atau marah kamu pasti diem, gak mau ngomong lagi.” dia seperti bisa membaca pikiranku.
“Itukan dulu kalau sekarang sudah beda.”
“Apanya yang beda?”
“Ya, beda aja.”
“Iya, apanya yang beda?”
“Dulu, kalo aku ngambek kamu masih mau mengeluarkan kata-kata manis supaya baikkan lagi, kalau sekarang, memang kamu masih mau?”
“Merayu kamu dengan kata-kata manis, ke laut aja…”
“Satu yang tidak berubah dari kamu, masih tetap keras kepala…” Tiba-tiba kalimatku terhenti, teringat ke masa lalu, kepala yang biasa bersandar di bahuku, rambut yang dibiarkan panjang hanya untuk memenuhi keinginanku. Kenangan dia dan aku terlintas memenuhi pikiranku untuk sesaat.
“Hei, jangan bengong…” dia menghentikan hayalanku yang terbang ke masa lalu.
“Mikirin apa, mikirin anak? Emang udah punya?”
“Mikirin kamu, kenapa kamu makin cantik.”
“Makasih ya, ntar minumnya aku yang bayar.” Suaranya datar dan sepertinya tidak suka dengan apa yang baru aku ucapkan
“Kayaknya harga makanan lebih mahal dari harga minuman.” Aku mencoba mendinginkan suasana.
“Ya udah, kalo gitu kita bayar masing-masing.” Nada bicaranya berubah.
“Cuma bercanda aja, koq jadi sensitif gitu…”
Dia diam tidak menjawab. Aku bisa merasa ada yang gak bener, pasti dia gak seneng dengan kata-kata yang baru aku ucapkan. Setelah itu tiba-tiba suasana menjadi beku. Aku bisa merasakan ada sesuatu yang menggangu dalam pikirannya dan aku sama sekali tidak tahu.
“Aku ke toilet dulu ya.” Dia cuma menggangguk wajahnya menatap kosong ke luar jendela.
“Tolong jaga kursinya hanya untuk aku ya.” Dia hanya diam.
Sebatang  rokok menempel di bibirku. Aku menghirup dalam rokokku dan menghembuskan asapnya sekuat tenaga.
Berusaha mengeluarkan beban, yang aku tidak tahu beban apa yang sedang aku pikul saat ini. Kebiasaan merokok yang sebenarnya sudah aku tinggalkan enam bulan yang lalu. Entah kenapa di jalan aku beli sebungkus rokok, tapi paling tidak saat ini ada manfaatnya.
Aku kembali masuk ke dalam café, syukurlah dia masih duduk manis di pojok sana. Tidak semanis wajahnya saat ini. Aku melihat sebatang rokok bermain diantara jarinya, belum dinyalakan. Aku mengeluarakan korek gas, dan sebelum aku menyalakannya…
“Disini gak boleh ngerokok.” nada suaranya masih datar dan wajahnya masih memandang keluar.
“O ya.”
“Mintain bill nya, kita cari tempat yang lain.”
Oh Thanks God, dia mau melihat ke aku lagi dan terima kasih juga dia masih bilang nyari tempat yang lain bukan bilang mau langsung pulang.
Dia langsung menyerahkan beberapa lembar lima puluhan ribu rupiah ke Mbak yang baru mau menyodorkan bill yang masih tertutup. Dia menyambar tas tangannya, memasukkan dompetnya, meneluarkan handphone sebentar melirik kalau-kalau ada SMS atau miss called. Memasukkannya kembali dan langsung berdiri dan berjalan keluar dari café. Aku berjalan tepat di belakangnya sebelum keluar kau melihat si Mbak tersenyum manis sambil mengucapkan terima kasih. Rasanya si Mbak baru saja mendapat tips yang lumayan.
Dia masih belum bicara, berjalan santai sambil melihat tempat yang menurutnya ok. Langkahnya tiba-tiba berbelok ke salah satu café. Menanyakan sesuatu ke hostess yang berdiri di pintu masuk dan kemudian  memberi tanda mengajak aku masuk.
Berbeda dengan café sebelumnya yang terang benderang, yang satu ini suasananya lebih redup dengan alunan musik jazz. Suasana yang pas untuk berduaan. Tidak terlalu ramai hanya ada beberapa meja yang terisi, mungkin karena masih sore. Bagus untuk aku, jadi tidak terlalu berisik.
Dia kembali memilih duduk dipojok, dan langsung menyalakan rokoknya. Aku tidak melihat ada asbak di atas meja. “Emang disini boleh ngerokok.” Dia menaikkan kedua alisnya. Aku berani taruhan dia pasti menanyakan hal itu dengan hostess di depan tadi.
“Kamu kenapa jadi diem, aku tadi salah ngomong ya ?” aku membuka pembicaraan.
“Aku gak apa-apa.”dia menjawab seadanya sambil terus menikmati pasta yang dia pesan.
“Kamu ngomong dong, cerita apa gitu. Jangan diem terus.”
“Kamu yang cerita, aku dengerin.”
Posisi yang sama sekali tidak menguntungkan untukku. Aku rasa dia juga tau kalau aku bukan tipe orang yang bisa ngomong banyak. Tapi saat ini aku harus bisa kalau tidak percuma aja aku ketemu dia dan kemudian saling diam.
“Kenapa kamu belum menikah, Ello!?” pertanyaan itu keluar bersamaan dengan pasta yang telah habis.
“Aku sudah pernah jawab pertanyaan itu lewat SMS, hanya tinggal menunggu hari.”
“Kenapa baru sekarang, kenapa enggak 2 atau 3 tahun yang lalu.”
“Yah mungkin beberapa tahun yang lalu aku merasa belum siap aja. Belum siap secara mental dan keuangan dan selama itu juga aku enggak terlalu mikirin atau punya target menikah.”
“Berarti sekarang kamu udah siap.”
“Enggak juga. Tapi mau gimana lagi, aku juga sadar kalau sekarang umur aku udah masuk kepala tiga. Jadi mau gak mau ya harus siap.”
“Terus sejak kita pisah, berapa lama kamu sendiri?”
“Aku enggak ingat.” aku tidak begitu nyaman dengan pertanyaannya.
“Dua tahun?.”
“Mungkin.”
“Kenapa sampai dua tahun, bukannya waktu itu kamu lagi di Malaysia. Kenapa gak cari pacar disana? Kamu kan senangnya sama gadis Melayu.”
“Belum ketemu yang cocok aja, lagian aku kesana buat cari duit bukan cari jodoh”
“Atau selama dua tahun itu kamu masih mikirin aku?”
Aku tidak bisa langsung menjawab, aku memandang wajahnya beberapa saat. Aku sama sekali merasa tidak nyaman dengan suasana dan pertanyaanya. Aku sama sekali tidak tahu arah pembicaraannya. “Aku gak mau jawab”
“Kenapa?”
“Aku gak mau menginggat-ingat masa lalu kita dulu. Aku seneng banget hari ini kita ketemu dan aku mau hari ini kita gak usah ngomongin yang udah lewat. Takutnya nanti malah jadi salah pengertian terus marahan. ”
“Dua tahun kamu masih menunggu aku walau aku udah mutusin kamu. Kamu pasti bener-bener kecewa waktu dengar aku sudah menikah.” Dia sepertinya tidak perduli dan masih tetap terus menggungkit-ungkit masa lalu.
“Kita ngobrolin yang lain aja ya.”
“Tadi kamu suruh aku ngomong sekarang kamu suruh aku diam.”
“Aku bukan menyuruh kamu diam, kita ngomongin yang lain ya.”
“Aku mau ketemu kamu hari ini, karena aku mau kamu terus terang sama aku. Aku gak mau terus-terusan merasa bersalah.”
“Merasa bersalah? Kamu enggak buat salah apa-apa.”
“Ello, aku mutusin kamu, aku buat kamu kecewa, aku enggak menepati janji aku. Kamu bilang itu gak salah.”
Aku menarik nafas panjang, kenapa harus membicarakan yang sudah berlalu. Kenapa harus membuka sesuatu yang hanya mengingatkanku dengan kekecewaan yang sebenarnya sudah terobati.
“Itu sudah lama banget, gak perlulah dibicarain lagi. Aku kecewa waktu kamu mutusin aku, tapi sebenarnya kamu sama sekali enggak pernah buat janji apa-apa. Aku yang maksa kamu untuk berjanji.
“Maafin ya, aku udah bener-bener bikin kamu sakit hati aku bikin kamu kecewa.”
Aku menghela napas, sebatang rokok kembali menempel di bibirku. Sepertinya aku memang harus kembali mengingat kenangan masa lalu. Kenangan yang selama ini telah aku tutup dan simpan dalam hati paling dalam dan tidak perlu diingat lagi meski tak ingin membuangnya. Disimpan tanpa harus membicarakannya apalagi harus membicarakannya dengan dia.
“Waktu kamu mutusin aku, untuk beberapa bulan aku masih berharap kamu nelfon aku lagi. Aku sering ingat dengan kamu, mungkin karena waktu itu aku belum dapat kerja. Tapi begitu aku dapat panggilan dan mulai kerja. Aku sedikit bisa melupakan kamu…”
“Tapi kamu masih menunggu selama dua tahun.” dia memotong kalimatku yang belum selesai.
“Emang iya, kadang-kadang aku masih ingat kamu, tapi hanya sekedar pengen dengar kabar kamu. Itu aja gak mikirin yang lain.”
“Sebelum kamu pergi aku menulis banyak puisi cinta untuk kamu memberi begitu banyak janji. Aku tulis karena aku sayang sama kamu dan aku mau kita masih bisa jalan bersama lagi waktu kamu pulang. Sebelum kamu pergi, di airport kamu menulis surat yang bilang kamu pasti kembali tapi kamu juga mengucapkan kata-kata klasik “kalau memang jodoh pasti ketemu lagi”, dan ternyata kita memang tidak jodoh. Mungkin jodoh kita hanya sebagai teman, dan aku bisa menerima itu jadi gak ada yang perlu disesali, gak ada yang perlu disalahkan.” Aku mengucapkan kata-kata itu tanpa sedikitpun melepas pandanganku dari dia. Aku bisa melihat mata indahnya sedikit berkaca menahan air mata. Aku ingin dia berhenti untuk menyalahkan diri sendiri dan mulai membicarakan hal lain.
“Sekarang kamu udah ketemu aku, apa aku kelihatan seperti orang yang masih patah hati atau frustrasi. Aku rasa enggak. Aku bahagia dengan apa yang aku miliki saat ini, jadi kamu enggak usah terus merasa bersalah gitu.”
“Tapi waktu aku mutusin kamu, kamu juga bilang kalau kamu akan selalu dan akan tetap menunggu aku pulang. Aku masih ingat.”
“Oh, come on, waktu itu kita terpisah ratusan kilo dan kita hanya berbicara lewat telfon. Apalagi yang harus aku buat selain meyakinkan kamu dengan kata-kata. Aku sayang kamu tapi kalau bukan jodoh mau gimana lagi.”
“Makasih ya, kamu selalu baik dengan aku.”
“Makasih juga untuk kamu, udah bayarin minum aku tadi.”
“Aku serius, kamu selalu baik sama aku. Sudah lama aku mau nelfon kamu, bicara dengan kamu. Tapi aku takut kalau kamu masih marah sama aku, enggak mau bicara sama aku.”
“Ini cuma masalah pacaran, kamu memang menggores luka di hati aku  meninggalkan bekas yang tak akan hilang tapi kamu bukan membunuh aku. Jadi berhenti menyalahkan diri karena luka ini tetap memberi arti tersendiri.”
“Kamu sempat-sempatnya berpuisi.” Ada sedikit senyum diwajahnya.
“Sekarang kamu sudah senyum, berarti kita bisa bicarain yang lain kan.”
“Aku mau dengar tentang pacar kamu, ketemu dimana orangnya seperti apa.”
“Gimana ya, orangnya baik…”
“Cantik, sabar, perhatian dan pasti…setia.”
“Kayaknya aku gak perlu jawab, kamu sudah kenal baik dengan dia.”
“Aku serius nih.”
“Siapa yang bercanda, aku belum selesai udah maen potong aja.”
“Oke deh, aku dengerin.”
“Sebelum kita pacaran kita berdua sudah jadi teman baik. Dia sudah tahu kebiasaan-kebiasaan aku, yang baik dan yang buruk. Dan yang terpenting dia selalu memotivasi aku dan selalu ada saat aku perlu. Dia juga bisa menutupi kelemahan aku, terutama kebiasaan aku yang susah bicara, kalau dia seneng banget ngobrol sama siapa aja. Kalau udah ngobrol susah menyuruh dia berhenti.”
“Kamu sayang banget dengan dia ya.”
“Lima tahun jalan dengan dia.”
“Kamu masih kayak dulu ya, susah banget mengucapkan kata “sayang”, semua perempuan pasti seneng kalau sering mendengar kata sayang dari pacarnya. Kamu bisa menulis puisi cinta kamu juga setia, tapi kamu jarang atau bisa dibilang tidak pernah mengucapkan sayang dan cinta secara langsung. Kenapa ya, padahal kamu juga nggak rugi apa-apa kan.”
“Kata-kata gak punya arti kalau enggak bisa dibuktiin.”
“Seperti aku,ya.’”
“Oh God, please don’t start again.”
“Aku seneng bisa bikin kamu kesel.”
“Satu yang sama dari kalian berdua, dia juga enggak pernah bosan bikin aku kesel.”
“Kamu kangen dia ya, kamu sayang dia, kan.” senyuman usil terlihat di wajahnya.
Tidak ada lagi wajah sedih dan bersalah yang beberapa menit yang lalu terlihat. Sekarang dia tertawa ceria. Senyum dan tawa membuat dia terlihat lebih cantik, aku bahkan baru sadar kalau dia terlihat lebih cantik dari yang aku ingat. Atau mungkin selama sepuluh tahun ini aku membayangkan dia seperti wanita penyihir yang telah melukai hatiku.
“Anyway, terusin lagi cerita tentang pacar kamu.”
“Mau cerita apa lagi?”
“Ya, apa aja. Kalian jadiannya kapan. Dia kerja dimana, kamu liburan disini kenapa gak diajak ikut?”
“Aku ketemu dia waktu di Malaysia, kita kerja di tempat yang sama. Sering ketemu, sering ngobrol, sering jalan terus… yah, enak aja kalau bareng dia.”
“Katanya ke Malaysia bukan cari jodoh”.
“Pertama dia bukan orang Melayu, yang kedua setelah dua tahun menunggu “seseorang” dan tidak kunjung tiba aku jadi mikir, yah hidup mesti diterusin.”
“Koq, gak diajak kesini, ketemu calon mertua…”
“Sekarang dia lagi di luar, dia dapat kesempatan untuk training dari tempat dia kerja.”
“Training kemana?”
“Training ke luar”
“Ke luar negeri, koq bisa ya kamu selalu di tinggal pergi ke luar negeri terus sama pacar kamu. Kenapa gak dilarang.”
“Kenapa harus dilarang, kalau seandainya aku dapet kesempatan yang sama aku juga mau.”
“Kamu gak takut…”
“Gak takut di putusin lagi.” Aku langsung memotong kata-katanya.
“Kalau jodoh enggak bakal kemana, bener gak?”
“Aku doain kalian baik-baik aja, pulang dari sana langsung nikah. Amin…amin…”
Tidak terasa sudah lama kita duduk disini, meja-meja disebelah juga sudah mulai terisi. “Kita jalan keluar, yuk.” Dia menggangguk.
Dia berhenti di depan toko baju,“Masuk yuk, temenin aku nyari baju buat Yenn.”
“No problem, Mam.”
Selagi dia sibuk memilih-milih baju yang tergantung, aku sama sekali gak tau mau ngapain. Aku hanya memperhatikannya. “Yang jaga toko pasti ngirain kita suami istri.” Dia gak jawab.
“Aku tunggu di luar ya.”  Makin lama aku jadi serba salah, ini pertama kali aku masuk ke toko pakaian untuk anak kecil. Sementara dia kelihatan masih serius memilih baju. Baru beberapa langkah aku membelakanginya…
“Papa tunggu di kasir ya.” suaranya lumayan keras, atau memang disengaja, cukup untuk membuat beberapa pasang mata melirik ke arah kita berdua. Aku cuma bisa tersenyum meringis.
“Udah selesai belanjanya, Ma.” dia keluar setelah beberapa menit di dalam toko. Aku mengulurkan tangan untuk membawa tas kertas berisi baju.
“Sorry ya, ngerepotin kamu. Makanya buruan kawin, biar cepet punya anak.”
“Kamu tau kalau aku punya anak, aku mau anak cewek. Biar kalau udah besar aku jodohin dengan anak kamu. Kita jadi besanan.”
Kita berdua berjalan ke lantai dasar, air mancur yang ada di depan mall sudah terlihat. Rasanya aku belum mau keluar. Keluar berarti, mengucapkan terima kasih dan sampai jumpa. Kata hatiku masih belum mau mengakhiri sore ini.
“Kamu mau pulang jam berapa?” kata ‘pulang’ sebenaranya tidak ingin dan terasa berat aku ucapkan. Dia melirik ke jam di tangannya. Sepertinya dia juga masih mau menjalani sore ini lebih lama.
“Kamu naik travel kan?” Gimana kalau kamu minta dijemput di rumah aku. Jadi kita masih bisa ngobrol lagi sambil menunggu.” Ide untuk menahan dia untuk tetap bersama dengan ku terlintas begitu saja dalam kepalaku.
“Gak apa aku nunggu di rumah kamu?”
“Kamu udah dianggap keluarga, ntar kan anak kamu nikah dengan anaknya aku.”
“Aku telfon dulu ya.” Tidak menaggapi ucapanku.
Aku kembali memandang dia, entah kenapa aku begitu menikmati setiap momen memandang dia. Tanpa harus mengucapkan satu kata, cukup hanya dengan memandang dia saja.
“Hei, jangan melamun. Kita cari taksi yuk.” dia baru saja selesai memesan mobil jemputannya.
“Jam berapa dijemput?”
“Setengah lapan, kenapa?”
“Gimana kalau kita jalan kaki. Cuacanya gak terlalu panas.” Aku sekali lagi memberi usul untuk bisa lebih lama berdua dengan dia.
“Mmm, ya udah yuk jalan.”
“Kamu ingat terakhir aku telfon ke rumah kamu. Waktu itu kamu ngelarang aku nelfon kamu, mulai sekarang bolehkan aku nelfon kamu kan?.” Kita udah keluar dari area mall, berjalan di trotoar yang masih lembab terkena hujan. Langkah kita pelan, seperti sedang menghitung jarak.
“Aku gak janji, susah untuk dijelasin.”
“Emang ada masalah, cuma ngobrol aja. Bukan mau ngajak kawin lari”
“Masalahnya suamiku…”
“Keren, gagah, penuh perhatian, taat beribadah.” Aku mencoba membalas joke nya dia.
“Aku ngomong serius kamu malah bercanda.”
“Ok…ok. Sorry, emang kenapa dengan suamimu?”
“Dulu, sebelum kawin. Waktu masih pacaran dengan dia, aku cerita semua tentang aku. Aku cuma mau dia tahu semua masa lalu aku, termasuk semua bekas pacarku. Karena aku gak mau nantinya ada masalah setelah kami menikah.”
Kita berhenti dibawah pohon besar. Beberapa pedagang parkir di sekitar situ. Kita memilih duduk di dekat penjual kelapa muda. Aku yakin dia membutuhkan beberapa teguk air untuk melanjutkan ceritanya.
“Dia juga sempat baca beberapa puisi yang kamu kasih ke aku. Bukan aku yang nunjukin, tapi waktu dia lagi main ke kamar aku, dia yang liat di atas meja.” Beberapa teguk es kelapa muda kembali membasahi, sebelum dia melanjukan.
“Jujur aku bilang ke kamu sekarang. Meski kita udah gak ada hubungan lagi, tapi aku juga masih sering ingat dengan kamu. Kadang aku sampai nangis. Aku kesel sama diri aku, karena udah nyakitin kamu.” Aku kembali bisa melihat ada air mata di wajahnya dan suaranya juga mulai bergetar. Dia berusaha untuk melanjutkan.
“Aku masih ingat, waktu aku mutusin kamu. Kamu sama sekali enggak marah, kamu malah bilang kalau kamu bakal tetap menuggu aku. Aku masih ingat sampai sekarang, dan setiap kali aku ingat kamu, aku bener-bener merasa bersalah. Apalagi waktu aku tahu dari temen-temen kuliah, mereka bilang kalau sampai saat ini kamu belum marriage. Mereka enggak tahu banyak tentang kita, tapi waktu itu aku merasa kalau kamu beber-bener buktiin kata-kata kamu. Karena aku tau kamu selalu menuhi janji kamu.”
“Aku memang selalu berusaha penuhi janji, tapi come on, aku juga masih sadar, gak sampai buta-buta banget.”
“Makanya aku senang waktu pertama nelfon kamu, kamu mau menerima dan ngomong dengan aku. Apalagi waktu kamu bilang kalau kamu juga sudah punya pacar dan berniat untuk menikah.”
“Aku masih normal koq. Masih butuh sentuhan wanita. Tapi kamu masih belum jawab kenapa kita gak bisa saling tukar kabar?”
“Tadi aku udah bilang, kalau sejak aku mutusin kamu aku masih sering ingat kamu. Dan kalau aku ingat kamu, aku baca puisi yang kamu tulis. Biasanya semua puisi kamu aku simpan dan cuma aku yang tahu tempatnya. Mungkin hari itu lagi sial, puisi-puisi kamu masih ada di meja dan dia masuk ke kamar. Dia baca puisi kamu. Setelah itu dia bilang kalau kita masih saling berhubungan. Aku enggak perlu bilangin semuanya. Yang jelas, setelah itu sepertinya nama kamu seperti “penyakit” mematikan buat dia.”
“Hanya karena beberapa lembar puisi..”
“Dia melarang aku untuk menelfon atau berhubungan dengan kamu. Kadang aku juga sering marah dengan dia, gara-gara dia selalu curiga kalau aku lagi menelfon. Kalau selesai menelfon pasti nanyakin, tadi nelfon siapa, kenapa nelfonnya lama. Padahal waktu itu kita masih pacaran, belum nikah.”
“Cemburu tanda sayang, dia pasti sayang banget dengan kamu,ya.”
“Tapi yang aku enggak ngerti, dia cuma cemburu dengan kamu. Kalau aku bilang aku nelfon dengan cowok lain dia enggak marah. Meski aku bilang nelfon salah satu bekas pacar aku yang lain, dia gak marah. Dia hanya tidak mau aku berhubungan dengan kamu.”
“Aneh. Aku malah sama sekali sudah lupa apa yang aku tulis di puisi itu. Kamu masih simpan gak?”
“Puisinya diambil sama dia, gak tau diapai.”
“Bener-bener aneh, cemburu dan benci dengan aku hanya karena puisi.” Aku bangkit dari tempat duduk, membayar kelapa muda dan beberapa potong gorengan.
“Terus kalau dia tau sekarang kamu lagi jalan dengan aku, gimana?”
“Kalau kamu enggak ngomong, dia enggak bakal tau. Aku juga enggak cerita dengan temen yang lain kalau hari ini aku ketemu dengan kamu.”
“Gimana dengan bapak kelapa muda tadi atau si Mbak penjaga toko? Gimana kalau ternyata mereka agen mata-mata yang dikirim untuk mengawasi kamu.”
“Kamu dari tadi bercanda terus gak pernah serius.”
“Sekarang aku lagi cuti, lagi liburan. Aku gak mau pusing. Masalah suamimu yang benci dengan aku. Aku gak mau terlalu mikirin, aku belum pernah ketemu dia, aku gak kenal dia. Yang penting hari ini aku jalan dengan istrinya tersayang.” Marah, cemburu dan benci dengan aku hanya karena membaca puisi yang aku tulis, aneh ….
Kita sudah berjalan lebih setengah jalan menuju rumahku. Sekarang kita berdua berdiri di perempatan jalan, bukan jalan besar tidak ada lampu merah, hanya beberapa sepeda motor dan beberapa mobil hilir mudik. Aku secara refleks memegang tangannya untuk menyebrang, tidak ada penolakan darinya.
“Kalau dia tahu, tangan itu bakal direndam kembang tujuh taman selama enam malam.”
“Udah, enggak usah ngomongin dia lagi.”
Aku tidak tahu seperti apa akhir dari hari ini, meski sempat ada suasana yang membuat kita tidak nyaman tapi sampai saat ini semua begitu indah. Kita berdua bisa bertukar cerita, air mata dan ada tawa. Alam yang bersahabat, hujan yang berhenti tepat pada waktunya dan membiarkan angin yang setia mendinginkan sore ini. Thanks God,….
“Kamu sering jalan kayak gini?”
“Sering sih enggak, tapi pernah lah beberapa kali.”
“Dengan pacar kamu?”
“Enggak, sendiri aja.”
“Sendirian? Bukannya malah kayak orang lagi frustrasi.”
“Enggak juga, kalau dipikir-pikir jadi seperti meditasi. Beberapa orang percaya pergi ke tepi pantai ke tengah laut atau ke puncak gunung untuk bermeditasi. Aku melakukan meditasi di tengah kota. Ini namanya meditasi terbaru, merenung dalam keramaian.
“Aneh…”
“Susah untuk aku jelasin, tapi kamu boleh coba kapan-kapan. Jalan sendirian ditengah kota, merhatiin orang-orang yang jalan. Masuk ke pasar, atau bicara dengan pedagang, supir angkot, tukang sapu jalan dengan siapa aja yang tidak kamu kenal terus jalan lagi. Kamu harus coba sendiri baru bisa ngerasainnya.” Dia sepertinya masih belum mengerti.
“Kamu pernah nonton film Before Sunrise ?”
“Mmm, kayaknya enggak, kenapa?”
“Cerita filmnya kurang lebih sama seperti kita sekarang. Enggak sepenuhnya sama. Ceritanya tentang dua orang yang lagi liburan, cowok sama cewek sama sekali belum pernah ketemu sebelumnya terus kenalan di kereta api terus mereka sama-sama turun di satu kota tapi sama sekali bukan kota tujuan mereka berdua. Abis itu mereka jalan keliling kota sambil ngobrol tentang apa aja. Sampai pagi.”
“Kayaknya aku gak mau keliling sampai pagi, makasih ya.”
“Kalau seandainya kamu sanggup jalan sampai besok pagi, aku juga gak mau jalan keliling kota. Mendingan aku ngajakin kamu check-in. Biar suami kamu kena stroke! hahahaa…”
Satu pukulan mendarat di bahuku. Dan sepertinya dia sudah siap dengan satu pukulan lagi tapi aku menghindar lebih dahulu. Berlari ke depan meniggalkan dia beberapa langkah di belakang. Aku berdiri menunggu dia menghampiri, dia berjalan pelan sambil tersenyum. Sore ini begitu sempurna. Cuaca yang indah dan dia… memang lebih cantik…
Satu pukulan lagi di bahuku, kali ini lebih keras dari yang pertama. Menghentikan pikiranku yang sedang menikmati dia yang terlihat lebih… Ok cukup! Kembali ke dunia nyata.
“Masih mau jalan? Kalau enggak kita bisa naik angkot dari sini.” Aku menawarkan alternatif, walau aku berharap dia masih mau melanjutkan dengan berjalan kaki.
“Jalan aja, gak apa. Tapi kalau ada warung duduk bentar ya.”
“Di depan ada mesjid, sekalian mau wajib “lapor.”
Aku baru keluar dari mesjid, dia sudah menunggu di luar. Beberapa pedagang makanan di halaman mesjid. Tiba-tiba aku jadi lapar.
“Aku lapar, makan bakso yuk.”
“Kamu aja yang makan, aku masih kenyang.”
“Enggak jadi ah…”
“Bener gak apa, kamu makan aja. Aku pesan minum aja.”
“Kamu masih sering makan kayak gini?” dia memulai pembicaraan sambil menunggu pesanan bakso.
“Enggak salah nih. Bukannya situ yang lama tinggal di luar negeri..”
“Jangan salah, disana juga ada bakso tau.”
“Dimana-mana bakso itu ada, namanya aja yang beda.”
“Koq jadi bakso ya, tadi itu maksud aku kamu masih sering makan di warung pinggir jalan gini. Kamu kan kerjanya di hotel yang serba bersih, rapi, serba teratur  gitu.”
“Sama sekali gak ada hubungannya. Sampai sekarang aku masih merasa makanan tradisional yang dijual di pinggir jalan jauh lebih enak daripada yang ada di restoran atau hotel. Serius.”
“Makan bareng pacar kamu ya?” Aku diam saja tidak menjawab.
“Kamu jadi ingat dia ya?” dia masih berusaha menggoda
“Tapi kalau dipikir-pikir, masak masakan Eropa lebih gampang dari masakan kita. Bumbunya gak ribet.” Aku mengalihkan pembicaraan.
“Emang kamu disana sering masak?”
“Masak sih enggak, cuma bantu motong dan cuci piring.”
“Berarti yang masak pacar kamu ya. Kesampaian juga keinginan kamu dapet cewek yang pinter masak.” Aku cuma senyum.
“Sebelumnya aku ngirain hari ini, kalau kamu pasti marah-marah dan melampiaskan kekesalan kamu selama ini. Mengungkit-ungkit masa lalu, nanyakin macam-macem. Eh, gak taunya malah aku yang mulai mengungkit masa lalu. Kamu malah santai aja, kayak gak pernah sakit hati”
“Kejadiannya sudah lama banget, lagian kalau hari ini aku marah-marah sambil teriak juga gak ada untungnya sama sekali.  Mungkin kamu juga langsung pergi. Gak mau nelfon aku atau ketemu aku lagi.”
“Yah, seandainya aku bisa.”
“Bisa apaan? Telfon-telfonan dengan aku? Takut ketahuan sama suami kamu? Gak usah dipikirin, santai aja. Cukup kita jalanin hari ini, besok…, yah liat besok aja.”
“Bener apa kata orang-orang ya. Kita jadi lebih sayang dengan sesuatu waktu kita udah gak memilikinya lagi.” suaranya pelan nyaris tak terdengar.
Rasanya aku ingin memegang tanganya, mendekatkan tubuhnya ke tubuhku. Memeluknya dan bilang kalau aku masih dan tetap sayang dengannya.
“Orang-orang juga percaya, selalu ada kesempatan kedua untuk nunjukin perasaan kita yang sebenarnya. Aku juga merasa kalau aku tidak bener-bener buktiin kalau aku sayang dengan kamu. Tapi aku udah gak bisa buat apa-apa lagi.” Dia tidak berkata apapun.
Aku berhenti sejenak, menarik nafas. Kenangan masa lalu kembali melintas dalam pikiranku.
“Butuh waktu 3 tahun sampai aku akhirnya nelfon ke rumah kamu. Keinginan untuk tahu kabar kamu ngomong dengan kamu begitu kuat. Aku sempat bicara dengan adik kamu, dia yang bilang September kamu pulang, sekitar tiga bulan lagi. Dia bilang September kamu pulang dan menikah. Keinginanku untuk tahu kabar tentang kamu kesampaian, walau sebenarnaya bukan kabar yang aku harapkan. September, dua hari sebelum kamu nikah. Aku masih ingat, aku nelfon ke rumah kamu lagi. Aku hanya mau ngucapin selamat dan berharap kita bisa berhubungan lagi, sebagai teman…”
“Udah gak usah di omongin lagi.” Dia menghentikan omonganku.
“Aku mau bilang, kalau aku sudah melepas kesempatan pertama dan aku sama sekali tidak mau kehilangan kamu untuk ke dua kali. Waktu aku tahu kamu mau menikah aku tidak kecewa, sama sekali tidak. Aku cuma mau kita masih bisa ketemu atau ngobrol jadi teman baik, itu aja ”
“Aku tau, tapi kamu tahu kan. Aku tidak bisa berjanji, aku sekarang enggak sendiri…”
“Iya, suami kamu. Aku ngerti. Aku juga gak mau kamu jadi ribut dengan dia karena aku. Aku jadi penasaran dan sama sekali enggak ingat apa yang dulu aku tulis sampai dia jadi begitu cemburu dan kesal dengan aku hanya karena puisi itu.” Aku menekan kepalaku berusaha menggingat puisi yang pernah aku tulis.
“Ngomong-ngomong, kamu masih sering nulis puisi?”
“Iya, kadang-kadang, kalau ada ide aku tulis.”
“Puisi untuk pacar kamu?”
, tentang perasaan kalau lagi jatuh cinta, tentang kecewa karena semua berakhir Pokoknya masih seputar cinta-cintaan.”
Kita sudah sampai di depan rumah. Dia masuk berjalan di halaman sambil mencari perubahan yang ada selama beberapa tahun. Tidak ada banyak perubahan. Hanya beberapa bunga dan pohon yang berganti.
Aku melangkah ke teras rumah. “Mau cuci muka, benerin make up kamu atau sekalian masak buat makan malam, nyapu atau nyetrika?”
“Emang aku pembantu.” Dia langsung menjatuhkan badanya di kursi rotan sambil menghela nafas.
“Capek ya. Aku masuk dulu ya, sekalian ngambil minum.” Aku melangkah masuk ke dalam sambil meliriknya yang duduk dengan pasrah.
“Hei…” aku menyadarkan dia yang sedang menutup mata sambil menyodorkan handuk basah.
“Waw, cool towel. Baik banget.”
“Delapan tahun aku di gaji untuk melayani orang yang tidak aku kenal. Bolehkan sekali-kali aku melayani teman sendiri. Lagian, cukup suamimu kesal dengan puisiku. Jangan sampai dia tahu kalau kamu bermandikan debu karena aku. Bisa bunuh-bunuhan.”
“Ini air putih atau vodka, ntar aku mabuk kamu macem-macem lagi.” Dia melirik ke gelas yang berisi air putih di meja.
“Kalau mau, dulu juga bisa koq. Enggak usah pake alkohol juga gak apa.”
“Shut up.”
Sepertinya kita berdua sama-sama sedang menikmati kesunyian. Setelah berjalan di tengah kota dan sekarang hanya duduk di teras, suasana terasa sunyi.
“Kalau seandainya, kamu bisa kembali ke masa lalu. Apa yang mau kamu perbaiki?”
“Aku sama sekali tidak mau kembali ke masa lalu.”
“Cuma seandainya…”
“Aku tetap gak mau.”
“Kalau aku, aku mau kalau waktu itu aku gak usah ceritain tentang kamu ke suami aku. Dan aku gak lupa nyimpan puisi-puisi kamu. Jadi dia gak baca dan gak cemburuan dengan kamu.”
“Kirain kamu mau bilang, kalau kamu gak pergi ke luar negeri dan nyari kerja bareng dengan aku.”
“Katanya gak mau berandai-andai.”
“Yah sekedar menyenangkan hati kan gak apa.”
Aku kembali memandang dia kali ini dia berbalas memandang aku. Sunyi. Untuk beberapa saat kita hanya saling memandang. Pikiranku kosong. Aku hanya ingin diam.
“Aku mau tanya sesuatu tapi kamu jawab jujur ya. Kamu mau ketemu dengan aku hari ini maunya apa? Kamu jawab jujur.” Dia memecah kesunyian.
“Yang pasti ketemu kamu, ngobrol dengan kamu terus apa lagi ya. Ya itu aja. Kenapa sih?”
“Maaf kalau aku ngomong gini. Apa kamu masih sayang sama aku? Apa kamu masih mengharapkan aku balik ke kamu?”
“Sayang sama kamu, iya dan tidak akan pernah berubah. Aku sayang sama kamu selamanya cuma kali ini sayang as a friend, very close friend, untuk mengharapkan kamu balik? Enggak, kamu istri orang, ok. Ngapain juga kamu tanya kaya gitu?” Aku tidak suka dengan nada suaranya.
“Kamu sadar gak kalau hari ini, dari cara ngomong dan dari cara kamu ngeliat aku. Sepertinya kamu enggak hanya sekedar mengharapkan aku as a friend. Walau kamu ngomongnya sambil bercanda tapi dari mata kamu, aku merasa kalau hati kamu bicara lain.”
“Kamu masih punya suami dan aku juga punya pacar yang…”
“Yang apa? Yang kamu sayang? Kamu juga gak bisa bilang kata sayang dia di depan aku.”
“Kamu koq jadi ngomong ngelantur gini?”
“Kamu bilang karena aku masih punya suami, kalau aku cerai kamu masih mau terima aku lagi?”
“Hei, kamu makin gak bener…”
“Aku ngomong bener, aku sadar yang aku omongin. Kalau aku cerai kamu mau nikah dengan aku? Kamu jawab jujur. Kamu bilang kamu bakal tunggu aku kembali, sekarang kamu mau terima aku? Kamu bisa penuhi janji kamu? Kamu sayang aku…” kata-katanya terhenti berganti dengan tangis.
Oh My God, kenapa tiba-tiba jadi seperti gini. Kenapa jadi ada kata-kata cerai dan menikah. Skenario seperti ini seharusnya tidak ada dalam cerita indah sore ini. Memeluknya untuk mendinginkan hatinya rasanya bukan tindakan yang tepat. Menemukan kata-kata yang menghibur juga bukan mudah. Aku hanya diam.
Aku yang masih sayang dia. Aku yang harus penuhi janji. Aku yang tidak mengucapkan sayang dengan kekasihku. Suaminya yang benci dengan puisiku. Dia yang mau cerai. Dia yang mau dinikahi. Kenapa tiba-tiba dia membicarakan semua ini.
“Rose, kamu baik-baik aja?” Aku menyentuh tangannya pelan, tangisnya mulai reda meski isakan dan airmata masih tersisa. Aku tidak tau harus melanjutkan kata-kata apa lagi. Aku takut salah bicara.
Untuk beberapa saat aku masih memegang tangannya berpindah duduk tepat disampingnya. Sentuhan ditangannya kini berganti usapan halus, masih tidak ada kata yang terucap. Aku saat ini benar-benar butuh nikotin, kafein atau mungkin alkohol untuk menenangkan perasaan aku.
“Kalau kamu udah baikan, kamu ngomong ke aku masalah kamu, apa aja. Kalau aku bisa bantu aku bantu.” cuma itu kata yang bisa keluar dari mulutku.
Dia menarik nafas panjang matanya memandang kosong ke depan. Perlahan tangan kanannya menghapus bekas air mata yang masih tersisa, tangan kirinya masih belum terlepas dari genggamanku.
Perlahan pandangannya beralih menatap wajahku, hanya beberapa detik tapi terasa lama. Memandangiku seperti sedang mencari sesuatu, sesuatu yang tidak aku mengerti dan hanya ada dalam pikirannya. Kita masih berpegangan dan ada senyum kecil di wajahnya. Ketika aku masih dipenuhi ketidaktahuan dia memberi satu kecupan di pipiku.
“Aku boleh pakai toilet di dalam.” Dia berdiri dengan masih memegang tanganku. Aku hanya menggangguk pelan, pikiranku masih kacau dengan semua pembicaraan dan kejadian selama 5 menit sebelumnya.
Aku berdiri dan berjalan didepannya. Aku baru saja melangkahkan kakiku ketika dia menyentuh bahuku dan aku menoleh kearah dia.
“I love you…” Wajahnya tepat berada di depanku. Kata-kata itu terucap pelan tapi kembali membuat aku terpaku beberapa saat sebelum kembali membalikkan badan masuk ke dalam.
“Ibu permisi ke kamar kecil ya.” Dia menyapa ibuku yang duduk di ruang keluarga.
“O iya, silahkan di belakang.” Ibukku sepertinya sedang mengamati dan menggingat-ingat dia. Aku mendekati lemari es, segelas air dingin mungkin bias menenangkan hatiku. Aku melirik ke arah ibuku yang sepertinya masih berusah mengingat dia.
“Ello…!? Dia itukan…!??” kata-kata ibuku terhenti ketika suara pintu terbuka.
“ Ma kasih ya Bu. Saya duduk di luar.” Dia melangkah di depanku, aku sempat melirik ke ibuku dan sepertinya dia sudah ingat perempuan yang baru saja berlalu didepannya. Dan akhirnya tahu tujuan utama aku cuti satu minggu saat ini.
Sebenarnya aku tidak mau menanyakan atau mengungkit kembali semua yang baru saja dia ucapkan. Tapi rasa keinginan tahu juga begitu besar dalam kepalaku. Beberapa jam lagi mobil jemputannya datang dan membawa dia pergi. Seandainya aku tidak menanyakannya dan mendapat jawaban yang pasti, aku berani jamin aku tidak akan bias tidur malam ini dan cerita sore yang indah ini akan berantakan.
“Kamu mau jelasin ke aku, yang tadi kamu omongin?” Dia tidak menjawab, dia masih sibuk dengan peralatan make up nya. Membetulkan wajahnya yang ternoda oleh debu dan air mata. Pandanganku tertuju ke halaman kali ini aku tidak mau memandangnya. Aku tidak mau lagi pandangan ini disalahartikan.
“Aku memang lagi ada masalah dengan suami aku.” Dia telah selesai dengan make up nya.
“Tapi gak ada hubungan dengan kamu koq.”
“Kamu mau cerita?”
“Sebenarnya sama seperti masalah suami istri yang lain. Beda pendapat terus marahan besoknya baikan lagi. Terus berantem lagi. Tapi lama-lama jenuh juga.”
“Kalau cuma masalah rumah tangga biasa, kenapa pake bawa-bawa kata cerai?”
“Tadi aku barusan bilang, jenuh. Capek terus-terusan seperti ini.”
“Cerai bukan jawabannya”
“Kayak kamu sudah nikah aja.”
“Aku kenal kamu bukan sekedar teman. Aku tahu kebiasaan kamu. Aku juga bisa merasa kalau masalah kamu bukan cuma jenuh, tapi lebih dari itu. Aku gak bisa maksa kamu cerita, tapi kalau kamu mau aku selalu ada.”
Dia hanya diam, mungkin dia masih ragu antara menceritakan semuanya dengan aku atau tetap diam.
“Dia mukul kamu atau dia suka mabuk?” aku menyebut dua hal yang dia tidak suka dari laki-laki.
“Maksud kamu?”
“Hanya dua hal itu yang bisa bikin kamu mengucapkan kata cerai. Jenuh atau bosan mungkin bisa jadi alasan buat putus dengan pacar tapi enggak untuk suami istri. Kalau selingkuh, aku rasa suami kamu gak terlalu bodoh untuk selingkuh kalau punya istri kayak kamu.”
“Kenapa kamu selalu baik dengan aku. Kenapa kamu tidak pernah ngomong kasar atau memaki aku.”
“Kamu gak buat salah apa-apa, so kenapa aku harus…”
“Enggak cuma sekarang, gak cuma setelah aku mutusin kamu. Waktu kita masih pacaran, kamu juga selalu memaafkan aku gak pernah kasar…”
“Aku baik koq malah jadi salah.”
“Kamu selalu baik dan terlalu baik, dan tidak berubah.”
“Tidak cukup baik. Kalau aku sebaik yang kamu rasa, kamu gak akan mutusin aku waktu itu.”
“Aku sama sekali tidak pernah menjalin hubungan jarak jauh dan aku juga enggak yakin kalau aku bisa. Makanya aku enggak mau kasih janji untuk kamu.”
“Ok aku tau itu. Sekarang kamu mau cerita masalah kamu dengan suami kamu?”
Dia menghela nafas. “Dia sama seperti kamu. Sabar dan perhatian dengan aku, enggak cuma waktu pacaran sampai dua tahun setelah nikah dia masih sama.”
“Waktu Yenn lahir, dia lahir disini. Aku tinggal satu tahun disini dia masih tetap disana. Kita ketemu dua kali selama setahun itu, gak ada yang berubah masih sama. Tapi setelah satu tahun dan aku mulai kerja aku merasa ada yang berubah. Hal-hal kecil bisa jadi masalah gak cuma marah tapi pakai lempar-lempar barang. Sampai saat itu aku masih sabar. Sampai tahun lalu, aku enggak bisa terima lagi karena dia sudah melewati batas, dia…”
“Dia mukul kamu?”ada emosi di hati aku
“Kamu juga tahu, aku enggak bisa terima kalau aku sampai dipukul.”
“Kejadiannya, dia mukul kamu setahun yang lalu.”
“Kata-kata cerai sudah aku sebut waktu itu. Tapi kamu tau sendiri, cerai tidak semudah mutusin pacar. Aku juga harus mikirin anak, terus ada keluarga yang juga ikut campur. Ibu dia yang ikut minta maaf. Banyak yang harus dipertimbangkan, terutama anakku.”
“Berarti sudah gak ada masalah lagi kan?”
“Dia memang tidak pernah main fisik lagi. Tapi marah karena hal-hal sepele dan banting-banting barang, mukul tembok atau pintu masih sering. Aku cuma merasa hanya menuggu waktu dia mukul aku lagi.”
“Aku sama sekali tidak mengerti kenapa harus memukul orang yang jelas-jelas lebih lemah. Bukan merendahkan kamu tapi seandainya kamu punya kemampuan bela diri aku rasa dia bakal mikir dua kali untuk mukul kamu. Aku enggak pernah mengerti, memamerkan kekuatan fisik untuk menunjukkan kekuasaan atau malah sebaliknya hanya membuka kelemahan jiwa.”
“Aku cuti sekarang ini juga tanpa seizin dia, tapi aku enggak perduli. Aku hanya mau jauh dan enggak mikirin dia.”
Aku seperti melihat ada beban yang terangkat dari pundaknya. Berbicara dan berbagi cerita memang tidak menyelesaikan masalah yang sebenarnya. Tapi cukup untuk meringankan pikiran dan menyenagkan hati mengetahui ada teman yang mau ikut berbagi.
“Aku belum pernah cerita masalah ini sama orang lain. Mereka cuma tahu aku ada masalah dengan suami aku, cuma itu saja. Aku enggak tahu kenapa aku cerita semuanya sama kamu.”
“Aku tahu kenapa. Karena kamu maksa aku untuk kawin dengan kamu.” aku tersenyum sambil melihat dia. Semoga dia tidak salah mengerti.
“Lupain saja yang tadi aku ucapin. Aku enggak sungguh-sungguh. Aku juga enggak mau merusak hubungan kamu sama dia. Kamu gak pantes dapat janda.”
“Gak ada yang tahu apa yang ada di depan sana. Siapa yang tahu kalau setelah 10 tahun kita bisa ketemu seperti ini. Dan hanya dalam beberapa jam kita sudah bicara banyak.”
“Aku senang bisa ketemu dan bicara sama kamu lagi. Termasuk ngomongin masalah pribadi aku.”
“Kamu bisa cerita kapan saja sama aku. Masalah kamu sama suami, mungkin enggak pantas kalau aku ikut campur terlalu jauh. Masih ada keluarga kamu yang lebih pantas kamu dengar nasihatnya. Tapi apapun nanti jalan yang kamu ambil aku mendukung kamu.”
“Kalau seandainya aku milih cerai?”
“Kalau kamu siap jadi istri kedua, aku siap. Gak cuma bercanda. Aku rasa masih banyak pengusaha tua yang siap menerima…”
“Shut up…!”
“Sorry, sekarang serius nih. Seperti aku bilang, apapun keputusan kamu aku selalu mendukung. Kamu lebih dari sekedar teman buat aku.”
Sore sudah berlalu dan langit juga tak lagi biru di depan pagar mobil jemputan sudah menuggu. Kita berdua tahu saat ini pasti tiba dan ketika dia datang kita tak rela, kita merasa masih banyak cerita yang belum dibagi.
“Ya udah, gak enak sama mereka menuggu terlalu lama.” Aku mencoba menutup cerita sore ini meski tidak sepenuh hati.
“Kamu kapan balik?”
“Jumat pagi.”
“Aku masih mau ketemu kamu, jalan sama kamu lagi, tapi..”
“Kamu gak usah bilangin, aku juga udah tau.”
“Ma kasih ya. Aku…”
“Gak usah sebutin gak usah buat janji. Kita pasti ketemu lagi.” Aku memegang tangannya menatap matanya meyakinkannya. Tubuhnya merapat dan aku memeluknya.
“Aku pergi ya.”
Aku mengangkat jariku dan mendekatkan ke wajahnya. Memberi tanda untuk tidak lagi mengucapkan kata-kata. Aku memberi satu kecupan di keningnya dan melangkah mundur. Dan dia pergi.
Aku masih berdiri terpaku, mobil yang mengantarnya telah berlalu bahkan debunya juga telah tersapu. Aku mencoba mengingat dan menyatukan setiap detik dan menit di sore yang baru saja berlalu.
Perlahan aku menyentuh kalung yang dari siang ini menggantung di leherku menggosoknya dengan jariku dan kemudian melepaskannya dari leherku. Aku membuka kedua ujungnya dan mengeluarkan cincin yang terikat di kalung itu. Aku memandang cincin itu membaca tiga huruf yang terukir di bahagian dalamnya… Chi. Aku tersenyum dan memasangkan cincin itu kembali ke jari.
Satu janji yang pasti dan akan aku tepati…


dan kini telah kutemui
bunga indah lain mengisi hari
meski wangi dan indah berbeda
tapi akan tetap selalu kujaga
dan kali ini
tidak akan kubiarkan dia pergi
ku pasti penuhi
semua janji

Selasa, 10 Mei 2011

1000 Burung Kertas

Sewaktu Joe dan Anna baru pacaran, Joe melipat 1000 burung kertas buat Anna, menggantungkannya di dalam kamar Anna. Joe mengatakan, 1000 burung kertas itu menandakan 1000 ketulusan hatinya.

Waktu itu, Anna dan Joe setiap detik selalu merasakan betapa indahnya cinta mereka berdua.

Tetapi pada suatu saat, Anna mulai menjauhi Joe. Anna memutuskan untuk menikah dan pergi ke Perancis, ke Paris tempat yang dia impikan di dalam mimpinya berkali-kali itu!!

Sewaktu Anna mau mutusin Joe, Anna bilang sama Joe, "Kita harus melihat dunia ini dengan pandangan yang dewasa. Menikah bagi cewek adalah kehidupan kedua kalinya!! Aku harus bisa memegang kesempatan ini dengan baik. Kamu terlalu miskin, sungguh aku tidak berani membayangkan bagaimana kehidupan kita setelah menikah.!!"

Setelah Anna pergi ke Perancis, Joe bekerja keras, dia pernah menjual koran, menjadi karyawan sementara, bisnis kecil, setiap pekerjaan dia kerjakan dengan sangat baik dan tekun.

Sudah lewat beberapa tahun...
Karena pertolongan teman dan kerja kerasnya , akhirnya dia mempunyai sebuah perusahaan. Dia sudah kaya, tetapi hatinya masih tertuju pada Anna, dia masih tidak dapat melupakannya.

Pada suatu hari, waktu itu hujan, Joe dari mobilnya melihat sepasang orang tua berjalan sangat pelan di depan. Dia mengenali mereka, mereka adalah orang tua Anna.

Dia ingin mereka lihat kalau sekarang dia tidak hanya mempunyai mobil pribadi, tetapi juga mempunyai Vila dan perusahaan sendiri, ingin mereka tahu kalau dia bukan seorang yang miskin lagi, dia sekarang adalah seorang Bos. Joe mengendarai mobilnya sangat pelan sambil mengikuti sepasang orang tua tersebut.

Hujan terus turun, tanpa henti, biarpun kedua org tua itu memakai payung,tetapi badan mereka tetap basah karena hujan.

Sewaktu mereka sampai tempat tujuan, Joe tercengang oleh apa yang ada di depan matanya, itu adalah tempat pemakaman. Dia melihat di atas papan nisan Anna tersenyum sangat manis terhadapnya.

Di samping makamnya yang kecil, tergantung burung-burung kertas yang dibuatkan Joe, dalam hujan burung-burung kertas itu terlihat begitu hidup.

Orang tua Anna memberitahu Joe, Anna tidak pergi ke paris, Anna terserang kanker, Anna pergi ke surga. Anna ingin Joe menjadi orang, mempunyai keluarga yang harmonis, maka dengan terpaksa berbuat demikian terhadap Joe dulu. Anna bilang dia sangat mengerti Joe, dia percaya kalau Joe pasti akan berhasil.

Anna mengatakan, kalau pada suatu hari Joe akan datang ke makamnya dan berharap dia membawakan beberapa burung kertas buatnya lagi. Joe langsung berlutut, berlutut di depan makam Anna, menangis dengan begitu sedihnya.

Hujan pada hari Valentine itu terasa tidak akan berhenti, membasahi sekujur tubuh Joe. Joe teringat senyum manis Anna yang begitu manis dan polos, mengingat semua itu, hatinya mulai meneteskan darah.

Sewaktu Orang tua ini keluar dari pemakaman, mereka melihat kalau Joe sudah membukakan pintu mobil untuk mereka. Lagu sedih terdengar dari dalam mobil tersebut.

Hatiku tidak pernah menyesal,
Semuanya hanya untukmu 1000 burung kertas,
1000 ketulusan hatiku,
Beterbangan di dalam angin
Menginginkan bintang yang lebat besebaran di langit,
Melewati sungai perak,
Apakah aku bisa bertemu denganmu?
Tidak takut berapapun jauhnya,
Hanya ingin sekarang langsung berlari ke sampingmu.
Masa lalu seperti asap, hilang dan tak kan kembali,
Menambah kerinduan di hatiku.
Bagaimanapun dicari,
Jodoh kehidupan ini pasti tidak akan berubah.

by:Ginanjar rahardi

Sehelai Surat Dari Kekasihku

“Aku ingin putus”. Kalimat tersebut meluncur begitu saja dari bibir mungilnya. Kupandangi wajahnya dengan penuh tanya, tak dapat kusembunyikan kerut di dahiku. Aku kaget. Rasanya, hubungan kami baik-baik saja, setidaknya kami tidak bertengkar dalam satu bulan terakhir. Hmm sebentar, sepertinya, sudah lama sekali kami tidak ribut. Tidak ada yang salah kan?
“Kenapa?”  tanyaku kebingungan. Dia masih menunduk dan sepertinya tidak berniat mengangkat kepalanya atau menjawab pertanyaanku. Kami membisu. Lama…
“Kamu nggak mencintaiku”. Akhirnya, gadisku membuka suara. Namun, suaranya yang lembut itu malah menuturkan kepedihan yang mendalam. Siapa bilang aku tidak mencintainya?
Bidadariku, impianku… Dia persis seperti apa yang kuimpikan selama ini, satu-satunya gadis yang bisa memenuhi segala inginku. Dia cantik, lembut, pintar, dan sangat menghormatiku. Laki-laki mana yang tidak mencintai wanita demikian?
“Aku mencintaimu, sayangku. Ada apa denganmu? Aku bingung”. Sungguh aku bingung, dari mana dia mendapatkan ide gila seperti ini. Aku sungguh-sungguh mencintainya. Ya Tuhan, apa yang terjadi?
“Sebaiknya kamu pulang dulu”. Kembali dia bersuara. Menyuruhku pulang. Aneh, biasanya, dia tidak pernah memintaku pulang sebelum aku sendiri ingin pulang. Kupandangi pucuk kepalanya, masih juga menumpukan pandangannya pada rerumputan di halaman pondokannya. Tempat biasanya kami menghabiskan waktu bersama sambil memainkan gitar bututku dan menyanyikan lagu cinta baginya. Dia akan mendengarkan dengan seksama, tak berkedip, hanya diam seakan terbawa suasana roman tersebut.
Kukecup puncak kepalanya, sama seperti biasanya ketika aku ingin pulang. Kekasihku masih tak bereaksi. Kulangkahkan kakiku ke luar pekarangan. Kepalaku penuh dengan dugaan. Biasanya, dia tidak pernah membantahku, dia menghormatiku, mendengarkan kata-kataku dengan penuh perhatian. Aneh sekali…
“Ga, ada surat di meja, dari Intan”. Benny teman pondokanku menunjuk ke meja. Di sana tergeletak sebuah amplop putih, tertera namaku dengan jelas. ADIRANGGA PERMANA. Tulisan tangan yang sagat kukenal, kekasihku, DEWI INTAN PRASETYA. Lekas kurenggut surat tersebut dari meja, kubawa ke kamar.
Dear Angga,
Telah kulewati saat-saat manis bersamamu, aku sungguh-sungguh mencintaimu. Terima kasih telah memenuhi impianku memiliki seorang pangeran yang melindungiku, memegang tanganku di saat kujatuh dan menyanyikan lagu-lagu cinta yang indah.
Kusadari beberapa saat kemudian, aku begitu mencintaimu; hanya, aku tdak cukup yakin kau mencintaiku sebesar aku mencintaimu. Aku hanyalah bayangan bagimu, yang bisa kau atur sedemikian rupa sesuai dengan keinginanmu.
Awalnya kupikir, dirimu adalah sang pangeran yang melindungiku. Tapi, akhirnya, yang kurasakan hanyalah kungkunganmu yang yang terlalu mengikat. Aku tidak boleh bicara pada si A karena dia bisa melukaiku, si B tidak bisa menjaga rahasia, atau si C terlalu egois. Aku tidak pernah pergi ke mana pun selain bersamamu.
Awalnya, kupikir dirimu ada untuk memegang tanganku ketika kujatuh. Namun, pada akhirnya, pergelangan tanganku terasa sakit karena kau bukan hanya memegang, tapi juga mencekal tanganku dengan sangat keras.
Kau tidak suka kepada gadis yang lemah. Menangis adalah simbol kelemahan menurutmu. Aku tidak boleh menangis, bahkan ketika aku merasa sangat sakit.
Kau nyanyikan lagu-lagu cinta yang indah hanya karena kau ingin ada yang mendengarkan nyanyianmu. Kau tidak pernah menanyakan apakah aku menyukai lagu yang sedang kau lantunkan. Atau apakah aku sedang ingin mendengarmu bernyanyi? Atau, apakah aku sedang ingin kita pergi ke suatu tempat berdua? Semua keputusan ada di tanganmu.
Ah, semuanya terasa begitu indah, namun aku tidak tahan. Sungguh Angga, aku tergila-gila kepadamu. Tapi, rupanya, cinta saja tidak cukup. Tidak cukup jika orang yang kita cintai perlahan-lahan membuat kita kehilangan diri kita yang sebenarnya. Aku menjadi kekasihmu yang penurut tanpa keinginan sendiri.
Maafkan aku… Aku ingin menentukan jalanku sendiri. Maaf, sekali lagi maaf…
Termangu kupandangi helaian surat terakhir kekasihku. Rupanya demikian baginya.
Terbangun, kusadari jemariku masih menggenggam kuat surat Intan. Lusuh dan tak berbentuk surat lagi. Kupandangi surat itu sekali lagi. Masih kuterdiam, tak ada kata yang muncul dalam benakku. Otakku serasa lumpuh total, kaku.
Beranjak aku menuju kamar mandi. Kuguyurkan banyak-banyak air ke kepalaku, siapa tahu dapat menjernihkan pikiranku, melepaskanku dari kelumpuhan otak dan membuatku melihat masalah ini lebih jelas.
Bayangan Intan menari-nari dalam pikiranku. Tawanya saat kali pertama kami bertemu membuatku jatuh cinta, secantik bidadari. Dalam hati aku berjanji tidak akan membuatnya menangis, dia akan selalu tertawa bersamaku.
Akhirnya, kami berbicara tentang banyak keputusan demi kebaikannya. Ah, sebenarnya bukan kami yang bicara. Tapi aku. Intan mendengarkan saja. Kupikir, dia pendiam dan jarang bicara, dia banyak tersenyum. Yah, tak pernah kudapati lagi tawa selepas pertermuan pertama kami dulu. Salahkukah atas semua yang berubah pada Intanku, bidadariku?
Dear Intan kekasihku,
Bukan karena aku tidak cukup mencintaimu… Sebaliknya, aku sangat mencintaimu, tergila-gila kepadamu sampai tak kusadari bahwa segala usahaku telah melukaimu sedemikian perihnya.
Cinta tidak pernah salah, Tan. Hanya egoisme manusia saja yang menodai cinta, seperti aku sekarang. Egoismeku membuatku mencintaimu dengan cara yang salah.
Kusadari segalanya sekarang, Sayang… Maafkan aku. Beribu maaf karena telah melukaimu… Terima kasih telah menyadarkanku dari tidur panjang, tidur beralas dan berbantalkan tangis dan kepedihanmu.
Dalam hidupku, kau tetaplah bidadariku… Dirimulah satu-satunya bidadari yang berkenan menjejakkan kaki dalam hidupku dan membuat hidupku tidak akan pernah sama lagi.
Kuiringi langkahmu dengan doa, bukan berarti aku tidak mencintaimu lagi. Masih… aku masih mencintaimu, tapi kuhormati keputusanmu. Langkah kecilku untuk mewujudkan kebahagiaanmu, melihat tawa lepasmu lagi, walaupun dari kejauhan.

Kulipat surat balasanku kepada Intan, mantan kekasihku. Seperti itulah status yang kusetujui atas permintaannya demi kebahagiaannya, demi tawa lepasnya lagi. Lega rasanya melepaskan kegalauanku atas kesalahan yang sudah kulakukan pada hidup gadis yang paling kucintai.
Kupelajari banyak hal dari helaian suratnya kemarin, sekarang kutempelkan di dinding kamar agar selalu ingat bahwa mencintai berarti membebaskan. Memercayainya untuk bertanggung jawab atas keputusan yang dibuatnya sendiri. Karena mencintai, tidak memberiku hak penuh untuk mengatur hidupnya.


by: Ginanjar rahardi

Cinta Dari Alisa

Aditya dan Ardian… dua nama itulah yang selama 3 bulan terakhir mengisi hari-hariku.

Ardian…
Dia datang pada saat dimana aku sedang merasa sangat kehilangan, hari-hariku sedang membosankan dan menyedihkan. Aku baru saja putus cinta. Awal aku mengenalnya karena tidak sengaja mengirim sms. Setelah itu kami sering bertukar cerita, bertelpon ria.
Entahlah, aku tidak tahu kapan cinta itu hadir dalam hatiku dan aku juga tak mengerti mengapa cinta itu datang begitu cepat. Dan yang lebih aku tak mengerti mengapa aku harus mencintainya, padahal kita tak pernah bertemu.

Aneh bukan? Tapi itulah cinta, bila cinta tidak gila itu tidak dikatakan cinta…
Cinta itu harus gila.

Entahlah, apakah dia merasa hal yang sama dengan apa yang kurasa? Aku tak tahu. Hubunganku dengan ardian tak pasti, bertemankah atau berpacarankah…
Berteman…mungkin dia akan jadi seorang teman yang baik, yang selalu mau mendengar keluh kesahku setiap hari
Berpacaran…mungkin dia akan jadi seorang pacar yang setia,
Berteman atau berpacaran aku tak peduli. Aku merasa nyaman… mendengar suaranya dan mendengar tawanya, dia selalu menjalani kehidupannya dengan santai, seolah dia tidak pernah merencanakan hidupnya esok akan bagaimana, dia biarkan hidupnya mengalir. Tapi itulah yang ku suka, tapi hal itu pula yang pada akhirnya membuat aku benci.

Ardian datang lebih awal daripada adit, mungkin jika adit datang lebih awal, aku akan jatuh cinta padanya.

Aditya…
Aku mengenalnya karena perjodohan orang tua. Saat itu aku sedang menikmati kedekatanku dengan ardian.
Entahlah, aku tidak tahu kapan cinta itu datang di hati adit, aku tak mengerti mengapa adit sangat ingin menikah denganku, padahal perkenalan ini amat singkat. Entahlah, apakah aku merasa hal yang sama dengan adit? Aku tak tahu. Tapi yang pasti aku kagum akan kegigihan dan perhatian dia.

Hubunganku dengan adit juga tak pasti, yang pasti aku pernah menyakitinya karena aku menolaknya

Tapi hingga saat ini seolah dia tak menyerah untuk mengejarku..
Atau mungkin karena target hidup dia yang sudah tersusun rapi dari tahun ketahun. Dia manargetkan menikah pada tahun ini, pada usia dia yang ke 27. itulah adit, dia selalu menyusun rencana hidupnya jauh kedepan. Bahkan 10 tahun, 20 tahun kedepan sudah disusunnya secara terperinci. Tapi itulah yang membuat aku menolaknya, aku belum lama mengenalnya, aku pernah bertanya padanya, apakah saat dia menulis target hidupnya untuk menikah tahun ini, dia membayangkan wanita yang akan di nikahi itu siapa? Aku yakin, wanita yang dia bayangkan bukan aku, tapi orang lain, entah aku tak pernah mau tahu siapa wanita itu. Aku tak pernah ada dalam rencana hidup dia, karena perkenalan kita masih sangat singkat, tapi mengapa harus aku yang harus terjebak dalam target hidupnya?

Sungguh adit dan ardian adalah dua pribadi yang bertolak belakang, walaupun inisial nama mereka sama

Aku adalah seorang wanita, yang selama 3 bulan ini dilema dengan perasaanku sendiri. Secara jelas aku menjelaskan perasaanku terhadap 2 laki-laki itu pada perkenalan mereka. Aku seorang yang sangat simple dalam hal mencintai seseorang, aku selalu jatuh cinta karena hal-hal yang sederhana, tapi seringkali jatuh cinta tanpa sebuah alasan. Kadang perasaan itu datang tanpa aku tahu dan mengapa harus pada orang tersebut.

Aku sudah bosan menjalani kegagalan perjalanan cintaku, beberapa bulan sebelum aku mengenal ardian dan adit, aku memutuskan untuk menyerahkan kepada orangtuaku utuk memilih seseorang untukku, oleh karena itu mereka mengenalkanku pada adit, anak seorang teman bapak. Karena sudah terlanjur berjanji akan mencoba untuk menerima siapapun yang mereka pilih aku menyetujui untuk bertemu dan mencoba untuk mengenalnya.

Selama beberapa bulan aku mengenal mereka, aku semakin yakin akan perasaanku. Tapi saat aku menolak lamaran adit, keadaan sudah terbalik, ardian tidak lagi menginginkan aku menjadi bagian hidupnya. Aku tak tahu apakah alasan yang dia berikan adalah benar atau tidak, aku tak tahu. Saat aku menolak adit, banyak yang terluka, mama, bapak, adit, mbak tanti bahkan mungkin yang paling terluka adalah aku. Aku hanya memikirkan dan mengikuti perasaanku tanpa mau peduli perasaan orang lain, tapi apa yang aku dapat??? sekuat apapun aku meyakini perasaanku terhadapnya, toh sekarang dia mengabaikannya. Mungkin ini karma untukku…

Aku ingin sekali melupakan 2 nama itu dalam hidupku. Karena mereka membuat aku pusing. Aku merasakan apa yang adit rasa, aku merasakan bagaimana rasanya diabaikan, mengharapkan sesuatu yang tak pasti, tapi aku juga tak ingin mengabaikan perasaanku, karena hubunganku dengan ardian tak seperti yang aku harapkan. Dengan jelas dia mengatakan tidak mencintaiku, dia mungkin hanya mengganggap aku sekedar teman, seorang teman yang kesepian. Kisah ini bagaikan kisah cinta segitiga yang tak berujung. Jika aku tetap mementingkan perasaanku, ada seseorang yang terluka. Dan jika aku menerima cinta adit, aku sendiri yang akan terluka. Sampai akhirnya aku harus memutus untuk melupakan keduanya, agar tak ada yang merasa menang, agar semua merasakan perih yang sama. Tapi mungkin perih itu hanya untukku dan adit, karena kami sama-sama melibatkan perasaan yang dalam…

Entah apa yang aku harus ku ucapkan dipenghujung kisah ini, maaf atau terimakasih, yang pasti aku mendapatkan satu pelajaran yang sangat berharga dari kisah ini, aku akan mengucapakan 2 kata itu sebagai kata terakhirku. Maaf untuk semua yang secara sengaja atau tidak sengaja terluka karena masalah ini, untuk mama n bapak, maaf jika masalah ini membuat suasana kita sedikit berkurang keharmonisannya, maaf untuk adit yang sangat jelas terluka, maaf untuk ardian karena aku memaksakan sesuatu yang sudah pasti ku tahu itu tak mungkin.

Terimakasih untuk semua yang telah ikut mengukir sebuah kisah ini untukku.

Saat ini aku sedang mencoba untuk mengistirahatkan hati dan pikiranku, aku harus berusaha agar aku tak berkubang lagi pada kisah yang sama dan orang yang sama… walau sulit, aku harus bisa merelakan dan melupakan semua…
Aku ingin menuliskan sebuah puisi sebagai akhir dari kisah ini…

Mencinta…(ku menunggu)

Kadang, Tuhan yang mengetahui yang terbaik
Akan memberi kesusahan untuk menguji kita
Kadang, Ia pun melukai hati kita
Supaya hikmahnya bisa tertanam amat dalam
Jika kita kehilangan cinta..
Maka ada alasan dibaliknya
Alasan yang kadang sulit untuk dimengerti
Namum kita tetap harus percaya
Bahwa ketika ia akan mengambil sesuatu
Ia telah siap memberi yang lebih baik…
MENGAPA MENUNGGU????
Karena walaupun kita ingin mengambil keputusan
Kita tak ingin tergesa-gesa…
KARENA…..
Walaupun kita ingin cepat-cepat, kita tak ingin sembrono…
KARENA…..
Walaupun kita ingin segera menemukan orang yang kita cintai…
Kita tak ingin kehilangan jati diri kita dalam proses pencarian cinta
Jika ingin berlari, belajarlah berjalan dahulu
Jika ingin berenang, belajarlah mengapung dahulu
Jika ingin dicintai, belajarlah mencintai dahulu…
BAGIKU….
Lebih baik menunggu orang yang kita inginkan…
Ketimbang memilih apa yang ada
Tetap lebih baik menunggu orang yang kita cintai
Ketimbang memuaskan diri dengan apa yang ada
Tetap lebih baik menunggu orang yang tepat
Karena hidupku terlampau singkat untuk dilewatkan bersama
PILIHAN YANG SALAH
Karena menunggu mempunyai tujuan yang mulia dan misterius
PERLU KAU KETAHUI
Bahwa bunga tidak mekar dalam semalam
Kehidupan dirajut dalam rahim selama 9 bulan
Cinta yang agung terus tumbuh selama kehidupan ini
Walaupun menunggu membutuhkan banyak hal iman, keberanian dan pengharapan….
Penantian menjanjikan satu hal yang tidak dapat seorangpun bayangkan
PADA AKHIRNYA TUHAN…
Dalam segala hikmah dan kasihnya….
Meminta kita menunggu….
KARENA…
Alasan yang penting!!!!!!

Cemburu

Alia nampak dengan jelas, gadis itu keluar dari perkarangan rumah Ikwan. Alia juga nampak Ikwan menghantar gadis cantik itu dengan lambaian dan senyuman yang ranum. Kata Ikwan, gadis itu adalah kawan kecilnya. Tapi sejak gadis itu datang, Ikwan kian menjauh darinya, Ikwan kerap keluar bersama gadis itu. Hati Alia sakit!
Ikwan jarang menelefonnya kini. Malah, kalau Alia call di rumah, selalu saja keluar. Handsetnya juga selalu suruh tinggalkan pesanan suara saja, bila ditanya kenapa, kata Ikwan habis bateri. Takkan sepanjang minggu habis bateri? Kalau dapat call pun Ikwan cakap sikit saja dengannya. Seolah tidak ada lagi topik yang menarik hendak di kongsikannya bersama Alia. Alia rasa bahang perubahan sikap Ikwan. Gara-gara kehadiran gadis cantik yang pulang dari London itu. Kononnya kawan lama, entah-entah kekasih lama!
“Gadis tu kan baru je datang dari luar negara, lagi pun mereka memang sahabat rapat dari kecil, memanglah banyak yang nak dibualkan setelah sekian lama tidak berjumpa.” Alia mahu percaya kata-kata Nina yang memujuknya itu. Tapi cemburu dihati Alia masih juga meronta-ronta tak mahu kalah. Tak boleh jadik nih!
“Tapi Nina.. Wan dah berubah! Dia macam dah lupakan Lia.. macam dia dah malas nak jumpa atau sekurang-kurangnya berbual dengan Lia.. sejak kedatangan kawan baiknya yang cantik tu!” Geram Alia bila teringatkan gadis itu. Sakit hati Alia bila terbayang wajah cantik itu. Memang dia benar-benar cantik! Hidungnya lebih mancung dari Alia, kulitnya putih dan halus. Bukan seperti Alia yang berkulit sowo matang. Matanya besar dihiasi bulu mata yang panjang dan lentik serta keningnya hitam lebat. Pipinya gebu dan licin macam kulit tomato. Bibirnya mungil dan merah jambu tanpa perlu disapu gincu. Rambutnya pula panjang lurus separas dada. Hati lelaki mana yang tidak tertawan. Alia tahu beza antara dia dan gadis itu bagaikan langit dengan bumi.
Alia pandang ke dalam cermin, pantulan dari cermin memaparkan wajahnya yang masam mencuka. Dia lihat keningnya yang nipis, matanya yang kecil dan bulu mata yang pendek. Kulitnya tidak sehalus dan segebu gadis itu. Bibirnya pucat saja. Kalau tidak memakai gincu langsung tidak menarik. Alia mula bencikan rupanya! Dia ingin kelihatan cantik, lebih cantik dari gadis itu!
Alia bandingkan pula dirinya dengan gadis itu, dia hanya mendapat Diploma dalam bidang Pengurusan dan sekarang jadi kerani biasa di sebuah syarikat swasta. Gadis itu pula baru habis belajar di luar negara dengan gelaran Sarjana Muda Undang-undang. Kalau dapat kerja nanti, pasti gajinya menjangkau angka dua ribu. Ah! Gadis itu umpama permata yang berharga, manakala Alia bagai pasir yang bertaburan dijalanan. Alia mengeluh lagi.
“Pasti Ikwan tidak berminat untuk bersamaku lagi.. Ikwan sudah menjumpai gadis yang sesuai dengan dirinya..” kata Alia sendirian. Alia sedar, Ikwan tidak setaraf dengannya, lelaki itu berkerja sebagai Timbalan Eksekutif di syarikat ibunya. Mereka adalah golongan berada, bukan macam Alia yang sederhana. Namun hati Alia masih berharap, dia berharap Ikwan akan kembali mesra seperti dulu. Alia ingat perkenalan mereka yang singkat tapi bermakna.
“Encik Haris ada?” itulah kata-kata Ikwan ketika masuk ke pejabatnya untuk menemui bos Alia, yang merupakan pelanggannya.
“ Emn.. dia keluar sekejap! Ada apa-apa yang saya boleh bantu?” ujar Alia sambil mengkagumi rupa paras lelaki yang berdiri didepannya. Ikwan kacak sekali. Senyumannya lembut dan suaranya lunak.
“Emn.. tak apalah! Biar saya tunggu dia..”
“Oh.. kalau begitu.. silakan..”
Ikwan duduk di meja menunggu yang menghadap meja Alia, Alia sesekali melirik pada Ikwan yang membelek-belek majalah yang tersedia di atas meja itu. Bila sedar dirinya diperhatikan, Ikwan melemparkan senyuman menawannya. Alia jadi tersipu malu. Tidak lama kemudian bosnya Encik Haris kembali. Ikwan segera masuk ke bilik pejabat Encik Haris.
Waktu tengahari, Alia turun makan di restoran berhampiran, ketika Alia menunggu pesanannya, tiba-tiba satu suara menyapa.
“Boleh saya join kamu?”
Alia agak terkejut bila melihat Ikwan berdiri di tepi mejanya.
“Semua meja telah penuh..” ujarnya lagi dengan senyumannya yang mencairkan hati Alia. Alia agak tergagap tetapi mempersilakan Ikwan duduk semeja dengannya. Mereka mula berbual dan memperkenalkan diri masing-masing. Mula-mula perbualan mereka agak lembab, tapi Ikwan pandai berjenaka. Alia tak henti-henti ketawa dibuatnya. Ikwan menyerahkan kad namanya pada Alia, dia juga membayar semua harga makanan.
“Terima kasih, belanja saya makan..” ujar Alia sebelum mereka berpisah.
“Call saya kalau ada masa..” laung Ikwan sebelum pergi. Alia menggangguk. Hatinya berbunga riang.
Sejak hari itu, mereka kerap berhubung. Ikwan selalu bercerita tentang apa saja dengannya. Ikwan akan meluahkan apa saja yang ingin dikongsikannya pada Alia. Lama kelamaan hubungan Alia dengan Ikwan menjadi erat. Putik-putik cinta bersemi. Ikwan melamar cintanya pada hari lahirnya yang ke dua puluh lima tahun. Dengan sejambak bunga, kek harijadi dan seutas rantai. Alia tidak akan lupa betapa bahagianya hati wanitanya hari itu. Bagaikan seorang puteri yang mencapai impiannya.
Tapi itu dulu, sebelum kehadiran gadis cantik yang baru pulang dari luar negara. Kini Ikwan semakin sibuk. Dia tidak ada masa untuk menghubungi Alia. Dia sudah ada teman lain untuk berkongsi cerita mahu pun masalah. Kalau dulu, Alialah tempat mengadu bila hatinya resah atau terlalu penat dengan kerja, kini ada gadis lain yang mengambil alih peranan itu. Alia semakin terkilan.
***************
Alia tidak menghubungi Ikwan lagi selepas dia ternampak gadis itu keluar dari rumah Ikwan. Alia tidak mahu menjadi muka tembok yang tidak tahu malu. Biarlah Ikwan menghubunginya jika lelaki itu masih ingat padanya. Alia ingin menganggap hubungannya dengan Ikwan sudah berakhir.
Dia mengambil keputusan itu setelah memikirkannya masak-masak. Walau pun tiada kata putus antara mereka, Alia lebih rela daripada mendengar kata perpisahan dari mulut Ikwan. Namun setelah dua minggu, Ikwan tidak juga menghubunginya. Hati Alia semakin remuk redam.
“Hai Lia.. mendung je muka kamu kebelakangan ni..” Sapa Harun, rakan sekerjanya.
“Kau jangan sibuklah!!”
“Eh! Marah?” Sakat lelaki itu lagi. Alia tarik muka masam. Dia memang selalu bermuram durja gara-gara hubungannya dengan Ikwan yang dingin itu.
“Aku bukan apa Lia.. tapi sebagai kawan, aku kesian juga tengok kau ni.. badan pun dah susut.. kau makan hati ya?”
Harun bersuara lagi. Alia tantang muka Harun dengan tajam. Dia tidak suka orang lain masuk campur dalam hal peribadinya.
“Aku dah lama tahu hubungan kau dengan Encik Ikwan tu.. aku rasa baik kau lupakan saja dia tu.. aku rasa kau pun tahu, Helina sudah balik dari luar negara. Si cantik tu akan bertunang dengan encik Ikwan tak lama lagi.” Lancar benar Harun menceritakan hal itu. Darah Alia rasanya tersirap hingga ke umbun-umbun. Dia tidak menyangka hubungan Ikwan dengan gadis cantik itu sudah sampai ke tahap bertunang.
“Dari mana kau dapat tahu semua ni Harun?” tanya Alia was-was. Betul ke budak Harun ni? Banyak sangat dia tahu tentang Ikwan.
“Kau hairan? Aku sepupu Helina, memang la aku tahu banyak tentang dia dan Ikwan..” Sahut Harun dengan yakin. Alia tertunduk, matanya mulai terasa panas. Ada manik-manik jernih yang bertakung dibibir matanya. Sampai hati Ikwan!
Hendak bertunang pun Ikwan tidak memberitahunya.
“Mereka dijodohkan oleh keluargakah?” tanya Alia lagi. Dia berharap Ikwan berbuat demikian kerana terpaksa. Alia enggan menerima hakikat kalau Ikwan benar-benar mengkhianati cintanya!
“Sudahlah Alia.. jangan berharap lagi! Helina tu memang kekasih dia.. sebelum kau bersama Ikwan lagi.”
Hati Alia hancur berkecai mendengar kebenaran itu. Jadi selama ini Ikwan menipunya. Selama ini dialah pihak ketiga. Dia hanya sebagai boneka Ikwan kala Helina tidak ada bersama. Cuma sandaran sementara saja! Patutlah Ikwan tidak memperkenalkannya pada Helina bila Helina baru pulang. Ikwan kata kawan sepermainannya dari kecil lagi baru pulang dari luar negara. Tapi sedikit pun dia tidak bersuara untuk memperkenalkan Alia pada gadis itu, jadi memang benarlah Helina adalah kekasih lama seperti jangkaan Alia!
Sakit hati Alia terasa semakin dalam. Jantungnya seakan ditikam-tikam dengan pisau yang amat tajam. Dia benci Ikwan. Dia benci Helina! Mengapa mereka melukakan hatinya. Mengapa Ikwan mencambahkan cinta dihatinya, tapi kini dengan kejam membunuh cinta itu tanpa belas kasihan!
“Kenapa dia tidak beritahu aku?” kata Alia seolah-olah bertanya pada Ikwan.
“Entahlah Lia.. dia mungkin takut kau akan berjumpa Helina dan mengaku sebagai kekasihnya.. pasti hubungannya dengan Helina akan terjejas jika itu berlaku..”
Ada benarnya juga kata-kata Harun itu, patutlah Ikwan enggan dihubungi. Dia takut rahsia hubungannya dengan Alia terbongkar.
“Harun.. aku nak cuti setengah hari, hari ini.. tolong bagitau Encik Haris, katakan aku tak sihat..” Alia mengemas mejanya. Dia ingin pulang ke rumah dan menangis sepuas-puasnya. Dia ingin meraung dan menjerit untuk melepaskan kesakitan yang sarat berbuku didadanya. Harun mengangguk. Dia kelihatan amat bersimpati dengan Alia.
Alia segera mengambil telefon bimbitnya dan mendail nombor Zarul, adik sepupunya. “Kakak ni.. tolong ambil kakak di pejabat!” kata Alia sebaik saja talian disambungkan.
“Ai! Awalnya.. ada apa hal kak?”
“Kakak tak sihat hari ni.. kau di mana sekarang?”
“Saya masih di bandar ni.. ada temuduga pukul 11.00 a.m., habis temuduga nanti saya ambil kakak macam mana?”
Alia mengeluh. Dia ingin segera pulang ke rumah. Tapi Zarul pula sibuk. Adik sepupunya itu baru tamat belajar dan sedang mencari kerja. Dia dihantar dari kampung oleh ibubapanya untuk tinggal bersama Alia sementara mendapatkan pekerjaan. Zarul akan menghantar dan mengambilnya dari kerja setiap hari. Alia baru saja membeli sebuah kereta kancil tapi dia tidak mempunyai lesen memandu. Nasib baiklah Zarul sudah mendapatkan lesen memandu, secara tidak langsung Zarul menjadi pemandu sementara kepada Alia yang baru memohon lesen memandu dan masih dalam proses pembelajaran.
“Tak apalah! Kakak naik bas saja..”
“Eh! jangan lah..! Zarul datang sekarang..”
“Kan kau nak temuduga.. nanti terlewat pula.. sekarang dah pukul 10.30 a.m..”
“Alah.. masih sempat!” Talian terus diputuskan. Alia mengeluh. Zarul berkeras mahu menghantarnya pulang meski pun dia ada temuduga. Alia terpaksa menunggu. Beberapa minit kemudian terdengar bunyi hon di luar. Alia segera keluar dan masuk ke perut kereta.
“Tengok.. sudah pukul 10.40am.. mana sempat!” ujar Alia sambil menunjukkan jam tangannya pada Zarul.
“Sempat.. bukannya jauh!” balas Zarul sambil ketawa kecil.
“Ha.. nak bawa laju lah tu! Zarul.. kakak rasa baik Zarul pergi tempat temuduga tu, kakak tunggu di kereta.” Cadang Alia.
“Emn.. idea yang baik..” Zarul setuju. Kereta segera meluncur ke tempat yang dituju.
“Eh! Kau temuduga di sini?”
Zarul angguk. Alia kenal benar dengan bangunan itu. Bangunan itu adalah milik ibu Ikwan. Jadi Zarul pergi temuduga di syarikat milik keluarga Ikwan. Alia benar-benar tidak senang hati!
“Zarul kejap saja.. kakak tunggu ya!” Zarul bergeges masuk ke dalam bangunan itu.
Alia mendengar radio sementara menunggu Zarul masuk ke dalam. Tiba-tiba sebuah kereta masuk parking benar-benar di sebelah keretanya. Alia macam kenal kereta itu, dia menoleh memandang pemandunya. Alia tersentak, Ikwan! Lantas Alia berpura-pura tidak melihat Ikwan. Alia menundukkan kepalanya sambil membaca surat khabar yang dibeli Zarul. Bila Alia sudah pasti Ikwan telah pergi barulah Alia tercangak-cangak mencari kelibat lelaki itu. Perasaannya bercampur baur. Dia pun tidak tahu mengapa dia mengelakkan diri dari bersemuka dengan Ikwan. Biarlah hubungan mereka berlalu bagai angin yang datang menyapanya untuk seketika. Rasanya tak perlu lagi Alia hendak berperang besar dengan Ikwan atau Helina. Alia sedar siapa dirinya. Kalau nak rajuk biar pada yang sayang, kalau orang dah tak sudi buat apa Alia nak terhegih-hegih menagih perhatian Ikwan. Namun jauh di sudut hati Alia, dia merasa cukup pedih dan sengsara. Cinta yang mekar di hatinya itu bukannya mudah hendak dibuang dalam sekelip mata!
Ketika dia sibuk merenungi nasib diri, tiba-tiba Zarul muncul mengetuk cermin kereta. Di belakangnya kelihatan Ikwan yang memandangnya dengan wajah penuh misteri. Alia segera membuka tingkap.
“Kakak.. saya telah diterima bekerja di sini.. emn! Ni lah bos saya.. katanya nak jumpa kakak..” kata Zarul sambil tersenyum simpul. Hati Alia menjadi tidak keruan. Dia memandang muka Zarul dan Ikwan silih berganti.
“ Emn.. boleh kita cakap sendirian..?” Kata Ikwan dengan tenang.
Alia terasa lidahnya kelu. Dia yakin, Ikwan mahu berterus terang dengannya kini. Terasa air mata mula bertakung di bibir matanya. Alia mengangguk perlahan.
“Lia naik kereta Wan?” Ikwan membuka pintu keretanya. Alia angguk lagi. Dia segera keluar dari kereta kancilnya dan masuk ke dalam kereta Honda Ikwan.
“Zarul balik dulu lah!” kata Alia pada Zarul. Zarul agak kehairanan kerana bakal bosnya mengajak kakak sepupunya masuk ke dalam keretanya pula. Tapi Zarul tidak membantah. Dia masuk ke dalam kereta dan beredar.
“Kita pergi tempat biasa?” kata Ikwan lembut. Alia tidak menyahut. Dia hanya terbayang puncak bukit di mana mereka selalu menghabiskan masa bersantai di situ. Dengan membawa sedikit bekalan, mereka seolah-olah berkelah di puncak bukit itu. Tapi itu dulu, sebelum kehadiran Helina. Alia yakin, Ikwan hendak bercakap tentang hubungan mereka pada hari ini. Mungkin hari ini adalah hari terakhir mereka mengunjungi puncak bukit yang indah itu.
“Kenapa diam?”
Alia menoleh memandang Ikwan. Ikwan melirik padanya sambil terus memandu. “ Emn.. tak ada apa..” Sahut Alia malas.
Sebenarnya dia mahu meluahkan segala yang berbuku di hatinya. Dia mahu tanya tentang Helina dan mengapa Ikwan merahsiakan hubungannya dengan Helina selama ini. Alia ingin sekali mengamuk dan meradang atas sikap Ikwan yang mempermainkan hati dan perasaannya. Namun, Alia hanya membisu, dia tidak tahu hendak berkata apa kepada Ikwan. Cintanya pada Ikwan begitu dalam dan Alia pasrah jika terpaksa mendengar khabar buruk itu hari ini.
Sepuluh minit kemudian mereka sampai di puncak bukit. Suasana tenang dan dingin. Tapi hati Alia semakin ketakutan. Takut menghadapi kata-kata perpisahan dari Ikwan. Ikwan kejam kerana mempermainkan harga dirinya. Alia tidak mahu kelihatan bodoh dengan mengamuk atau melenting pada Ikwan yang nyata menjadikannya sebagai boneka mainan. Itulah tekad Alia. Alia ingin terus bersabar!
“ Kenapa diam saja dari tadi Lia..?” tanya Ikwan lagi. Dia memandang mata Alia seolah-olah mencari-cari sesuatu di situ. Wajah Alia muram saja. Tidak ada apa-apa di matanya kecuali kedukaan.
“Cakaplah apa yang Wan nak cakap..” ujar Alia membuang pandangannya dari wajah Ikwan. Ikwan menarik nafas berat. Sukar untuk memulakan kata-kata.
“ Wan tahu, Alia kecil hati kerana Wan seolah-olah menjauhkan diri dari Lia.. maafkan Wan..” Ikwan mula membuka kata-kata. Alia mengigit bibir menahan sendu di hatinya.
“Lia pun tidak mahu menghubungi Wan lagi.. Lia juga seolah-olah tidak mahu ambil tahu tentang Wan lagi..” Sambung Ikwan.
Alia terus membisu, dia enggan berkata apa-apa. Biarlah Ikwan menyampaikan kata-kata terakhirnya sebelum mereka berpisah. Alia bersiap untuk mendengar kebenaran yang pasti menyakitkan itu.
“Biarlah Wan berterus terang dengan Lia…”
Alia segera membelakangkan Ikwan. Dia tahu apa yang bakal didengarnya. Airmatanya sudah luruh. Ikwan tidak menyedari airmata itu kerana Alia segera menyembunyikan wajahnya dengan menghadap hutan yang tebal.
“ Wan..” suara Alia serak. “ Boleh tak Wan tak payah cakap apa yang Wan nak cakap..” Alia masih membelakangi Ikwan. Suaranya bergetar, Ikwan mula perasan ada pergolakan dalam perasaan Alia. Dia ingin sekali memujuk.
“ Lia.. Wan tahu Lia merajuk! Wan tahu Wan salah.. Kita berdamai o.k?”
Alia segera berpaling ke arah Ikwan. Ikwan terharu melihat airmata Alia yang bercucuran itu. “Sampai hati Wan.. Lia tahu Lia tak sepadan dengan Wan, tapi kenapa Wan tak terus terang dengan Lia? Sepatutnya Wan tak perlu minta maaf dengan Lia.. biarkan saja Lia! Kawin sajalah dengan kekasih hati Wan tu.. sampai hati Wan permainkan perasaan Lia..” Tersembur keluar semua yang berbuku dihatinya. Wajah Ikwan nampak terkejut.
“Kenapa? Wan tak sangka Lia sudah tahu hubungan Wan dengan Helina? Wan fikir Lia tak tahu Wan nak bertunang dengannya? Cukuplah Wan.. jangan nak siksa hati Lia lagi..” Ucap Alia separuh menjerit. Ikwan tercengang memandangnya.
“ Mana Lia dapat cerita ni?”
“ Itu tak penting.. yang penting mengapa Wan permainkan perasaan Lia.. kenapa Wan mahu bersama Lia sedangkan Wan dah ada Helina..”
“ Lia.. Lia.. Lia! Wan tak faham.. mana Lia dapat cerita Wan nak tunang dengan Helina, sumpah Lia! Dia cuma kawan baik Wan dari kecil lagi. Dia bukan kekasih Wan!”
Alia mula diam, tangisnya reda mendengar kata Ikwan. Mereka berpandangan.
“Betul..?” tanya Alia sambil mengesat airmatanya. Ikwan angguk.
“Tapi kenapa Wan tak kenalkan Lia dengan dia? Kenapa Wan jauhkan diri sejak dia datang?” Wan tarik nafas berat. Dia melangkah ke keretanya dan mengambil sesuatu.
“Nah!”
Beberapa keping gambar dihulurkan kepada Alia. Alia membelek semua gambar itu. Semuanya gambar dia bersama Zarul, ketika dalam kereta, di jalan raya dan di perkarangan rumah.
“Kenapa ada gambar Lia dan Zarul..?” tanya Alia tidak faham.
“Kerana gambar inilah Wan menjauhkan diri dari Lia.. beberapa minggu lepas, satu surat dikirimkan pada Wan. Dalam surat itu ada gambar Lia dan Zarul. Kononnya Zarul adalah tunang Lia.. Lia telah ditunangkan oleh keluarga Lia.. Wan pun frust la bila dapat tahu..” cerita Ikwan dengan tenang.
“Tapi kenapa Wan tak tanya pada Lia?” Kata Alia dengan wajah yang lebih cerah. Sisa-sisa airmata sudah hilang.
“Itulah silap Wan! Wan mahu Lia sendiri yang berterus terang dengan Wan.. tapi Lia sikit pun tidak cakap apa-apa, Zarul tinggal serumah dengan Lia .. tapi sedikit pun Lia tidak memberitahu Wan.. tentulah Wan salah faham. Wan geram, marah dan benci pada Lia sebab tu Wan malas nak layan Lia.. malas nak sambut call Lia.. Manalah Wan tahu Zarul tu adik sepupu Lia.. mujurlah dia datang temuduga tadi, Wan masih cam muka Zarul dalam gambar tu. Wan memang nampak Lia dalam kereta tunggu Zarul tadi, tapi Wan tak tegur Lia kerana Wan masih salah faham dengan Lia, tapi lepas temuduga Zarul tadi, Wan tanya Zarul siapa gadis yang tunggu dalam kereta? Barulah Wan tahu Zarul adalah adik sepupu Lia.. barulah Wan tahu selama ni Wan salah faham dengan Lia.. Wan nak minta maaf, Lia?”
Alia termangu mendengar cerita Ikwan. Rupanya ada kisah yang diluar jangkaannya. Siapa pula yang mengambil gambarnya dengan Zarul dan mengatakannya bertunang? Alia keliru.
“Wan tak tunang dengan Helina?”
“Sumpah tidak! Siapa yang cakap ni..”
“Harun.. sepupu Helina! Katanya Wan memang kekasih Helina sebelum Wan bersama Lia lagi.. katanya tak lama lagi Wan akan bertunang dengan Helina.. Lagi pun Wan semakin menjauhkan diri dari Lia sejak dia datang..” jelas Alia. Dia mula ragu dengan kata-kata Harun.
“Mestilah Wan jauhkan diri dari Lia masa tu, sebab Wan marah pasal gambar Lia dengan Zarul.. Wan malas nak kenalkan Lia dengan Helina kerana masa tu Wan benar-benar salah sangka pada Lia.. maaf ye sayang..” Ikwan menarik tangan Alia dan memandang tepat ke matanya. Alia angguk sambil menarik nafas lega. Dia menyangka Ikwan hendak memutuskan hubungan tapi kini sebaliknya.
“Memang benar Harun tu sepupu Helina, tapi hairan mengapa dia nak menghancurkan hubungan kita pula?” Kata Ikwan penuh tanda tanya. Alia angkat bahu. Kini hatinya lega. Gadis cantik itu ternyata tidak ada apa-apa hubungan cinta dengan Ikwan. Rupanya semua masalah itu hanyalah salah faham dan fitnah orang lain. Cemburunya pada gadis itu hilang serta merta.
“Dan hairan.. siapa pula yang ambil gambar Lia serta hantar kat Wan? Sudah jelas ada orang yang mahu musnahkan hubungan kita?” Kata Alia pula.
“Ya! Mungkin Harun juga?” Alia mengganguk tanda setuju dengan kata-kata Ikwan itu. mereka berpandangan. Saling tersenyum. Mereka tidak peduli apakah motif Harun, yang paling penting kini mereka sudah kembali bersama.
“Maaf ya?” tanya Ikwan sekali lagi.
“Lia juga..” Balas Alia.
“Sia-sia saja Wan bencikan Lia.. tahu-tahu cuma salah faham..” Kata Ikwan sambil ketawa kecil. Teringat akan sikapnya beberapa minggu yang lepas. Seluruh isi rumah menjadi tempatnya melepaskan marah. Berbakul-bakul leteran ibu kepadanya kerana sikapnya menjadi garang tidak tentu pasal. Anak-anak buahnya di pejabat pun tidak berani curi tulang, takut pada Ikwan yang tidak semena-mena bertukar angin. Bos yang dulunya peramah dan mesra menjadi bengis tak menentu. Pantang silap sikit adalah yang kena marah! Semuanya pasal gambar yang diterimanya itu. Helina pun selalu merungut dengan perangainya yang selalu berubah angin. Hendak berlawak jenaka pun susah. Kalau senyum pun bagaikan terpaksa!
“BenarkahWan bencikan Lia?” Tanya Alia menduga.
“ Ya! Benci sangat.. benci tapi rindu..ha ha ha.. merana betul Wan menanggung rindu tidak jumpa Lia beberapa minggu. Kadang-kadang Wan harap Lia akan call atau SMS Wan.. tapi bila buka handset.. sunyi saja..” luah Ikwan tentang perasaannya ketika musim dingin hubungan mereka.
“Lia juga.. nak call Wan.. tapi teringat Helina mungkin sedang bersama Wan..” Ujar Alia pula, mereka tertawa bersama. Rupanya mereka sama saja, cemburu buta!
“Zarul cakap Lia tak sihat? Minta hantar balik rumah..” tanya Ikwan dengan muka bimbang. Muka Alia memang pucat saja tadi.
“Emn..” Alia tersenyum nipis. Kini dia kelihatan berseri-seri.
“Lia sakit apa?” tanya Ikwan lagi sambil sentuh dahi Alia.
“Sakit hati..” jawabnya dengan menahan senyum.
“Oh.. rupanya! Sakit hati kenapa boleh senyum?” ujar Ikwan setelah mendapat tahu. Dia turut senyum meleret. Alia hanya menolak bahu Ikwan dengan manja. Ikwan tertawa melihat riaksi Alia.
“Lia..” Panggil Ikwan dengan suara romantis. Alia mendongak ke arah wajah lelaki yang dicintainya itu. Rindu benar hatinya pada Ikwan. Mujurlah semuanya sudah berubah baik.
“Emn..”
“Jom kita kawin?”
Mata Alia terbelalak. Dia menatap wajah Ikwan minta kepastian akan lamaran yang tiba-tiba itu.
“Kenapa? Tak sudi?”Tanya Ikwan lagi.
“Wan lamar Lia?” Angguk.
“Bunga? Cincin? Takkan nak lamar macam ni saja?” usik Alia dengan senyum nakal. Ikwan ketawa besar. Dia menarik Alia masuk ke dalam keretanya. Alia kehairanan.
“Jom kita pergi beli bunga dan cincin!!” balas Ikwan sambil masuk ke dalam perut kereta. Kereta meluncur laju menuju ke bandaraya.
“Mulai saat ini.. kalau ada apa-apa masalah, kita mesti bincang! Jangan simpan sendiri dalam hati.. o.k?” bisik Ikwan sambil memimpin tangan Alia menuju ke kedai bunga terhampir. Alia mengangguk. Wajahnya penuh dengan senyuman bahagia. Dugaan seperti itu mungkin datang lagi. Tapi kalau saling cinta menyintai, kalau saling kasih mengasihi dan kalau saling mempercayai antara satu sama lain, apa pun dugaannya pasti dapat diredah bersama. Ternyata dugaan cinta itu berlalu juga!

Gadis Di Sudut Itu

Pertemuan pertama di Art Case Gallery masih segar di ingatannya. Mataku terpana memerhatikan gerak geri gadis itu, gemalai langkahnya tersusun satu persatu. Aku pasti yang aku tak pernah melihat gadis ini berkunjung ke mana-mana galeri lukisan lain mahupun galeri milik Raja Azhar Idris, pelukis terkenal di Malaysia ini.

Gerak gerinya juga nampak agak canggung, “Barangkali ini kali pertama dia mengunjungi galeri lukisan”, otakku meneka sendirian. Aku mengorak langkah, menghampirinya yang masih asyik merenung lukisan di depannya.

 
   “Maaf mengganggu, tapi apa yang kau nampak dari lukisan ini?”, aku memulakan bicara, menanti reaksi darinya. Matanya masih menatap lukisan bertajuk ‘Beware’ tanpa menoleh ke arahku. Ehem..ehem”, aku mencuba lagi mengalih perhatiannya. Kiranya percubaan kali kedua ku berjaya...

  “Saya tak pandai mentafsir lukisan sebab saya bukan pengkritik seni ataupun pengumpul karya lukisan. Tapi saya tahu ada banyak cerita tersirat di sebalik lukisan ini. Banyak persoalan muncul, erm..contohnya apa pakcik tu buat kat taman permainan..kenapa selipar budak ni tinggal sebelah je? …aduh, panjang bicaranya, lancar bibirnya berkata-kata, namun matanya masih belum singgah ke wajahku.
 
   “Kau peminat Abdul Latif Maulan? tanya ku lagi.
   “Siapa?
soalnya kembali.
   “Pelukis untuk lukisan-lukisan yang kau tengok di pameran hari ni aku menjawab, nada suara ku sedikit jengkel kerana agak sensitif apabila pelukis pujaanku seperti diperlekehkan oleh gadis ini.

Dia menoleh sejenak ke arahku lalu matanya menatap risalah di tangannya yang tertulis‚ ’ABDUL LATIF MAULAN: PARALLEL UNIVERSE ~ FIRST SOLO EXHIBITON 7 June 2006 -16 July 2006’, setelah terarah oleh jari telunjukku.

   “Oh, sebenarnya housemate saya yang hadiahkan tiket ini sebagai hadiah hari lahir, sebab tu saya datang. Saya kena berterima kasih dengan dia, hadiah ini mungkin hadiah paling tak ternilai dalam hidup saya, luahnya jujur.

Aku merasakan kejujuran itu terpancar dari wajah kudusnya.
Wajahnya tidak secantik Erra Fazira, bicaranya tidak selembut Siti Nurhaliza, suaranya juga tidak semanja Ella, tapi ada aura pada dirinya menarik aku untuk lebih mengenalinya. Dia melangkah pula ke lukisan ’Silhoutee Journey’, lama dia merenung lukisan itu. Aku tak berniat mengganggunya lalu aku mengambil keputusan berdiam,memberinya masa menilai karya itu. Bergenang kelopak matanya, cepat-cepat dia menyapu setitis air mata yang mengalir di pipinya apabila tersedar yang aku masih di sebelahnya.

   “Ini lukisan tentang kes realiti yang pernah jadi dulu kan? tanyanya merujuk kepadaku. Aku mengangguk setuju. Paparan seorang wanita berseorangan di dalam bas, dan bayang-bayang hitam di bahagian tempat duduk belakang seperti sedang merenungnya tajam. Satu keluhan panjang kedengaran,“tak baik mengeluh“,aku menegurnya.

Kekaguman terbit lagi dari hatiku.? Bukan calang-calang orang mampu mentafsir karya ini kerana karya Abdul Latif Maulan biasanya dikaitkan dengan sesuatu tersembunyi di sebalik yang nyata di mata.
 
Dia tersenyum manis, menampakkan lesung pipit di pipi kirinya. Sungguh aku tak pernah merasakan tarikan sebegini, malah gerakan jari jemarinya membetulkan tudung di kepalanya pun nampak indah di mataku sehingga aku merasakan seperti mendengar alunan suara Ray Charles menyanyikan lagu What A Wonderful World.

Mabukkah aku hasil air setan yang aku teguk malam tadi?. “Gadis ini biasa saja, tiada yang menarik lalu mengapa aku mengaguminya?, suara hatiku bermonolog sendiri.

Aku mencuri pandang lagi pada wajahnya, kulitnya putih kuning, hidungnya tidak mancung tapi tidak juga penyek, badannya tidak kurus tapi tidak juga gemuk, penampilannya tidak terlalu bergaya tapi tidak juga terlalu kekampungan...mungkin kesederhanaannya yang memikat. Aku memejam mata, cuba memahat wajahnya dan gayanya kukuh di ingatanku, agar dapat aku abadikan ke layar kanvas selepas ini.

Aku membuka mata, dan dia telah tiada di depanku. Cepat-cepat aku berlari mencarinya sehinggakan aku hampir terlanggar Shahimah, isteri pemilik galeri ini.
Tak mungkin sepantas itu dia hilang. Akhirnya aku terpandang gadis itu di satu penjuru galeri, sedang menjawab telefon. Barangkali tidak mahu mengganggu tumpuan pengunjung lain lalu dia memilih penjuru sunyi itu. Ku potretkan detik itu di mindaku, mencurah-curah ilham untuk mengabadikan gerak geri gadis ini. Usai menjawab panggilan itu, dia bergerak terus ke pintu keluar. Aku berlari lagi,mengejarnya yang semakin jauh dari pandangan.
 
Aku menarik tangan kirinya sebelum dia melintas jalanraya, dia menoleh pantas dan tangan kanannya juga pantas menampar pipiku. Berpijar dan panas aku rasakan..rasa pekak sekejap gegendang telingaku, mengalir darah merah di penjuru bibirku. Wajahnya serba salah sebaik dia sedar niatku untuk mengelakkan dia dari menjadi mangsa ragut lelaki bermotosikal yang hampir-hampir berjaya meragut tas tangannya.

Lelaki jahanam itu pantas memecut laju, menyelit di antara deruan kenderaan lain yang bertali arus. “Takpe, aku ok’, aku bersuara cuba meredakan kegusarannya.

  “Maaf awak, saya tak perasan, saya ingat orang yang berniat jahat tadi’, jawabnya yang barangkali masih terbawa-bawa dengan bebanan perasaan dari lukisan Silhoutee Journey tadi. Aku menyambut huluran tisu dari tangannya, terpandang jari jemarinya, “erm...takde cincin lagi“, gumamku sendirian.
   
   “Apa?, tanyanya.
   “Erm..kenapa kau nak cepat-cepat balik?. Banyak lagi karya yang kau tak tengok aku menyoal tanpa menjawab soalannya tadi.
  “Saya ada hal sikit, tapi saya akan datang lagi bila ada masa. Lagipun pameran ni sampai hujung minggu depan kan? Insya Allah, panjang umur, ada kelapangan saya akan datang lagi, jawabnya sopan dan dia mengatur langkah ke tempat letak kereta. Dia menoleh sekilas ke arahku, “terima kasih banyak-banyak, ucapnya lalu melangkah terus dan hilang dari pandangan mataku.

Aku masih terpaku di situ, terpesona dengan gerak gerinya sehinggalah aku tersedar dari lamunan bila bahuku ditepuk pensyarahku Suzlee Ibrahim. Beliau merupakan insan yang pernah bertanggungjawab membentuk bakatku sewaktu masih menuntut di Fakulti Seni Lukis dan Seni Reka, UiTM.

   “Dah habis mengkaji lukisan Latif ataupun Ayie dah dapat ilham untuk pameran solo sendiri pulak? tanyanya seperti dapat menuras isi hati ku ketika itu. Aku sengih sambil melangkah kembali ke dalam galeri, aku mau berlama-lama di sana, mengorek seberapa banyak ilmu yang mungkin aku boleh dapatkan dari pelukis-pelukis hebat lain.
  
Minggu ini aku habiskan masa di galeri ini, menikmati dan menelaah hasil karya pelukis kontemporari yang aku kagumi. Aku melukis apa yang aku lihat, aku tak mampu menjadi pemikir yang tersirat seperti Latif yang mampu merakam dua warkah berbeza dalam setiap karyanya, tapi aku punya sedikit anugerah kurniaan Yang Esa, lalu aku gunakan untuk menyuarakan isi hatiku dengan coretan warna dan palitan garisan membentuk wajah di atas kanvas.

Kalau orang seusia aku mengagumi bakat Mawi, Yusry, Adam, Sofaz,Kristal ...rasanya aku lebih mengagumi bakat Yusof Ghani, Prof. Datuk Raja Zahabuddin Raja Yaacob, Raja Azhar Idris, Muid Latif, Ahmad Shukri Elias, Prof. Madya Ramlan Abdullah, Intan Rafiza, Khalil Ibrahim, Ismail Latif dan ramai lagi pelukis-pelukis Malaysia yang hebat.
   
Karyaku lebih tertumpu kepada kehidupan kotaraya seperti ’my mom and I’(sepasang ibu dan anak membeli belah), ’how do he got it?’( lelaki muda berkereta mewah), ’60’s sibling’(sekumpulan adik beradik pencinta lagu 60-an sedang bermain gitar),’anak ikan’ (gelagat gadis muda di temani lelaki tua) dan ’gothic or ska or punk or i’m confused?’(kerenah belia sekarang dalam berfesyen) antara lukisan-lukisan yang pernah aku hasilkan.
  
Aku duduk di penjuru dinding yang pernah gadis itu berdiri. Cuba mengutip kembali sedetik memori itu, jariku pantas melakar nukilan itu di kertas putih ditanganku. Balik rumah nanti akan ku pindahkan lakaran awal ini ke kanvas besar. Aku ke galeri ini saban hari, masih menunggunya dengan harapan, kadang-kadang terasa diri ini dungu, tak mampu bertanya nama nya. Hari ini hari terakhir pameran ini.

Aku sudah menyiapkan sepuluh keping lakaran gadis itu di berbagai sudut galeri ini, lakaran gadis itu di jalanraya, lakaran tamparannya di pipiku, senyuman manisnya..aduh,aku diserang angau. Menanti sesuatu yang tak pasti, namun sekurang-kurangnya aku mampu berkarya kembali. Karya terakhir yang aku hasilkan sebulan lalu masih mampu menanggung hidup bujangku.
  
Aku terkesima, diakah itu? Baju kurung biru bermotif bunga-bunga kecil menyerlahkan keayuannya. Jari ku pantas lagi melakar dan memotret gerak gerinya. Aku membiarkan dia menikmati lukisan-lukisan ’Open For Business’, ‘Toxic Waste’, ‘Forest Reserved’, ‘Belakang’, ‘Ulam Mencari Sambal’, ‘Fantasy Dream’ dan ‘One Way’ karya-karya Abd Latif Maulan. Kali ini aku tak berniat mengganggu tumpuannya, walhal aku jua semakin asyik melakar gerak gerinya. Hampir 10 lakaran dirinya mampu aku hasilkan secara goresan biasa selama dua jam dia di galeri ini. Aku cepat-cepat memasukkan kertas-kertas ini ke beg ’mortar’ku.
 
Dia menyedari kehadiranku selepas selesai tawafnya mengelilingi galeri itu. “So, macamana?“. Berkerut sedikit dahinya mendengar soalanku, tapi pantas juga dia mengerti bila aku mengarahkan mata ku ke arah lukisan-lukisan itu.

  “Amazing artwork, lukisan yang kemas, penggunaan warna yang menekankan penceritaan, ringkas tapi penuh bermakna. Ibarat membaca yang tersembunyi dalam hidup di kotaraya ini. Perlu banyak berfikir, tapi maksudnya memang sampai terus ke hati“, jawabnya penuh keyakinan.
  
  “Kau ni belajar seni atau sastera ke?,berkerut lagi dahinya sebelum bibirnya mengorak senyuman.
  “Saya pernah belajar aeronautical engineering dan sekarang saya jadi pensyarah dalam bidang yang sama. Salahkah orang tak de pendidikan seni sama-sama menikmati keindahan ini?“,tukasnya lalu memandangku menunggu jawapan.

Aku memang jenis manusia yang tak suka menjawab soalan,lalu kubiarkan soalannya tergantung dan menyoal lagi, „“Ada ke aku cakap salah? Apa yang patut aku tahu tentang keindahan aeronautical engineering kau tu?. Terus terang aku tak pernah dengar pasal benda-benda ni. Kau boleh bawak kapal terbang ke?”.  
 
Dia ketawa kecil, masih bersabar dengan kerenah aku yang banyak bertanya dari menjawab. “Saya belajar tentang rekabentuk kapal terbang, kelakuan kapal terbang masa tengah terbang, aliran aerodynamik udara, sifat kelakuan bendalir, kekuatan struktur bahan, menyelesaikan masalah secara sistematik, berapa geseran udara yang manusia kena tempuhi untuk berdiri tegak...itulah keindahannya“, jawapannya tegas dalam kelembutan.

  “Aku tak nampak apa yang indah pun dalam apa yang kau ceritakan tu“, aku membangkang pendapatnya sekadar untuk mengheret dia dalam perbualan yang lebih panjang.
  “Kapal terbang kena ikut graf penerbangan yang di hadkan oleh batasan-batasan tertentu contohnya had kuasa engin, had daya angkat(lift), had suhu, had tekanan kabin, had tekanan dinamik dan had ketahanan struktur. Semua ni berkait dengan hidup juga, sebab setiap sesuatu dalam hidup ini ada batasannya dan peraturan yang telah ditetapkan untuk kita patuhi, tak kira kita suka atau tak.“, jawapannya kali ini membuat aku terkedu.

Betapa selama ini aku terleka dalam dunia ku sendiri. Terbayang di ruang mataku solatku yang terabai kerana asyik dengan layar kanvasku, berkurung seharian di studio, berjoli di kelab malam dengan hasil jualan lukisanku malah tanpa sedar aku melupakan had batasan yang telah ditetapkan dalam diri seorang muslim sepertiku.

Aku sepatutnya mencontohi Dr. Sulaiman Esa yang merupakan pelukis Malaysia yang mempelopori seni lukisan kontemporari Islam dan sentiasa menyelitkan sedikit pendidikan dan pengajaran berguna dalam karyanya.
  
   “Zahri Asyaari, saya memiliki salah satu karya lukisan awak. Saya memang mengagumi hasil kerja awak, dan saya yakin awak akan berjaya macam pelukis-pelukis terkenal lain.
Barangkali lebih tersohor dari Van Goh, Da Vinci, Lippi ataupun Del Verrochio. Carilah ketenangan dalam hati awak bukan di tempat lain.

Ketenangan itu akan membantu awak berkarya.“, tenang bicaranya satu-satu menusuk telingaku tembus terus ke jantungku. Kali ini aku terdiam, tiada lagi soalan di benakku, huluran sampul merah jambu dari tangannya aku sambut. Dia berlalu pergi selepas memberi salam, meninggalkan aku tegak berdiri di sudut penjuru galeri itu.
Sudut yang sama aku memehatikannya dulu, sudut yang sama aku melakar wajahnya dan sudut yang sama ini juga lah hatiku pecah berderai.  
 
Aku meneliti muka depan kad itu, tertera gambar gadis itu di penjuru kanan dan di penjuru kiri gambar seorang lelaki yang seperti ku kenali. Kata-kata di bahagian dalam merentap jantungku, ’Undangan ke majlis kesyukuran perkahwinan puteri kami Nur Cherrina Emilyia yang bertemu jodoh dengan Akmal Syukry’.

Akhirnya aku teringat, lelaki ini lah salah seorang dari pemain gitar dalam lukisan ’60’s siblings’ yang pernah aku hasilkan dulu. Aku ingat lagi lelaki ini dan adik-adiknya berhenti memainkan alat muzik apabila azan berkumandang, menunaikan kewajipan solat bersama adik-adiknya. Masih jelas juga lagi di ingatanku aku menolak ajakannya berjemaah dengan alasan pakaianku kotor dengan warna cat,dan dengan berhemah di hulurkan pakaian bersih buatku. Hari itu aku solat selepas sekian lama tidak sujud kepadaNya....

   “Jika ku tanya padamu manakah arah kiblatmu,apakah jawapanmu sama denganku? Satu rumpun budaya,satu akar bahasa, satu soalan nak ku tanya, adakah kita punya satu suara?“, lagu Satu Suara nyanyian Rausyanfikir yang berkumandang di Radio Tm FM mengembalikan aku ke alam nyata dan menghentikan lamunanku pada peristiwa tahun lalu. 

Benarlah kata orang, insan seni jiwanya halus, mudah terasa, mudah juga terluka. Aku terluka kerana terlebih menyimpan rasa buat gadis itu, tapi aku juga terasa bahawasanya dia muncul untuk menyedarkan aku dari lena ku yang dulu. Esok aku akan mengadakan pameran lukisan solo ku : ZAHRI ASYAARI ~ SINAR DALAM GELITA.

Kali ini aku muncul dengan lukisan lakaran kasih sayang dalam kehidupan dan lukisan ’gadis di sudut itu’ bakal menjadi lukisan utama untuk majlis perasmian. Sesuatu yang pasti, aku sudah mengirimkan undangan istimewa buat pasangan Akmal Syaary & Nur Cherrina Emilyia!