Tawa dan Bahagia disaat itu, sampai hari
ini belum bisa aku lupakan. Bahkan dari
pertemuan pertama denganMu juga
sentuhanMu yang lembut sampai sekarang
masih terasa di kulitKu. Semua ucapan dan
juga perhatian yang dulu Kau berikan
padaKu, masih bisa Ku ingat dengan jelas.
Tapi… Ada yang berbeda, sejenak Aku
berpikir apakah itu yang membuat semua
ini terasa beda.
Dulu ketika Aku mengingat semua kenangan
denganMu, maka Aku akan tersenyum
kemudian aku akan merasa makin
mencintaiMu. Tapi sekarang, ketika Aku
mengingat semua itu maka Aku akan
menangis dan hati ini akan terasa begitu
sakit. Bahkan terasa lebih sakit
dibandingkan menghadapi sebuah
kematian.
Semua harapan dam impian yang Aku
letakkan dalam tanganMu seakan pupus
tanpa sisa. Aku seakan telah terbangun dari
mimpi yang Aku cintakan demi
menyenangkan hatiKu sendiri. Karena apa
yang Aku hadapi sekarang, tidak seindah
yang Aku impikan.
Aku bagai ingin menggenggam bulan di air.
Aku melihat bulan yang sangat terang di
permukaan air, tapi ternyata ketika ingin
mengambilnya disana tidak ada apa-apa.
Hanya bayangan indah tapi semua itu
hampa.
Inikah kehidupan yang sudah Aku pilih? Tak
ada kejelasan dan bahkan ternyata semua
tidak ada. Sejak pertama aku memilih hidup
denganMu, ternyata aku berjalan sendirian.
Tak pernah ada diriMu disisKu. Tak ada
diriMu yang menggenggam tanganKu. Tak
ada diriMu yang merangkulKu. Tak ada
dirimu yang menuntunKu.
Aku sendirian, tanpa ada bayangan diriMu.
Sebenarnya, untuk apa Aku bertahan
dengan semua ini?
Semua yang telah terjadi di antara Kita, dan
semua kesalahan Aku sudah memahaminya.
Aku mengerti semuanya. Tapi ketika Aku
akhirnya berhenti mencintaiMu, Aku mohon
Kaulah yang harus memahami dan
mengerti diriKu.
Karena disaat itu…
Sejuta kata “Aku MencintaiMu” dariMu
untuk diriKu, tak akan lagi mengembalikan
cintaKu padaMu.
Karena disaat itu…
Hatiku telah meninggalkanMu.
Karena disaat itu…
Aku tidak lagi merindukanMu.
Karena disaat itu…
Kisah kita telah berakhir.
ini belum bisa aku lupakan. Bahkan dari
pertemuan pertama denganMu juga
sentuhanMu yang lembut sampai sekarang
masih terasa di kulitKu. Semua ucapan dan
juga perhatian yang dulu Kau berikan
padaKu, masih bisa Ku ingat dengan jelas.
Tapi… Ada yang berbeda, sejenak Aku
berpikir apakah itu yang membuat semua
ini terasa beda.
Dulu ketika Aku mengingat semua kenangan
denganMu, maka Aku akan tersenyum
kemudian aku akan merasa makin
mencintaiMu. Tapi sekarang, ketika Aku
mengingat semua itu maka Aku akan
menangis dan hati ini akan terasa begitu
sakit. Bahkan terasa lebih sakit
dibandingkan menghadapi sebuah
kematian.
Semua harapan dam impian yang Aku
letakkan dalam tanganMu seakan pupus
tanpa sisa. Aku seakan telah terbangun dari
mimpi yang Aku cintakan demi
menyenangkan hatiKu sendiri. Karena apa
yang Aku hadapi sekarang, tidak seindah
yang Aku impikan.
Aku bagai ingin menggenggam bulan di air.
Aku melihat bulan yang sangat terang di
permukaan air, tapi ternyata ketika ingin
mengambilnya disana tidak ada apa-apa.
Hanya bayangan indah tapi semua itu
hampa.
Inikah kehidupan yang sudah Aku pilih? Tak
ada kejelasan dan bahkan ternyata semua
tidak ada. Sejak pertama aku memilih hidup
denganMu, ternyata aku berjalan sendirian.
Tak pernah ada diriMu disisKu. Tak ada
diriMu yang menggenggam tanganKu. Tak
ada diriMu yang merangkulKu. Tak ada
dirimu yang menuntunKu.
Aku sendirian, tanpa ada bayangan diriMu.
Sebenarnya, untuk apa Aku bertahan
dengan semua ini?
Semua yang telah terjadi di antara Kita, dan
semua kesalahan Aku sudah memahaminya.
Aku mengerti semuanya. Tapi ketika Aku
akhirnya berhenti mencintaiMu, Aku mohon
Kaulah yang harus memahami dan
mengerti diriKu.
Karena disaat itu…
Sejuta kata “Aku MencintaiMu” dariMu
untuk diriKu, tak akan lagi mengembalikan
cintaKu padaMu.
Karena disaat itu…
Hatiku telah meninggalkanMu.
Karena disaat itu…
Aku tidak lagi merindukanMu.
Karena disaat itu…
Kisah kita telah berakhir.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar